Showing posts with label Books and literature. Show all posts
Showing posts with label Books and literature. Show all posts

Tuesday, June 04, 2013

Approval Junkie

We are just an Approval Junkie...
I heard that sentence before...in some not-so-old movie.

Maksudnya kurang lebih begini, kalau kita pake baju yang sooooo in-fashion, dan semua orang kayaknya suka, kita bakalan senang. Or in my case, if my work being appreciated, mungkin rasanya lebih dari some beautiful girl comes to you and said, "Hi there, handsome..." 


Sebenernya ini ngarang sih, gak pernah ada yang bilang gitu, so i wouldn't know ;) 


Anyway, it is what i feel when someone appreciate my writings. 
better than when someone complementing my work in audio visual, or in my music, or might even better than when someone complementing my cookings.

That is huge.

Meski kita hanya melakukan apa yang kita suka. That nice and warm feeling will still lingering, like a warm blanket, getting you through the day. Untuk percaya, kalau kita melakukan apa yang kita suka, kita akan menemukan apa yang kita cari. Meski bentuknya berbeda. Atau pun tak disangka-sangka sekali. 

But believe me, it is what we have been looking for.


Wednesday, January 16, 2013

This is an obsession: 1Q84

Murakami, Haruki...gak biasa-biasanya ada penulis yang bisa membuat obsessed. Tapi itulah yang terjadi. Di buku terbarunya, 1Q84 - each day mendekati akhir, rasanya kok makin takut selesai ...karena mungkin dia masih lama nulis lagi, atau masih lama jadinya...
Sementara sepertinya all of his novel (kecuali yang early years kali ya, yang pinball), i have read it. Including shorts compilations. 

Truly, not many can do such thing that he does. A remarkable writer, a memorable passages, an original, genuine Murakami. 



3 books in one (yea, I'm cheap) and now looking for the news if he's currently writing a new one. 
This is an obsession. 






Thursday, September 18, 2008

Dunia Paralel Review, by Feby Indirani (writer of Simfoni Bulan)



Novel ini sampai di pangkuan saya tepat saat saya sedang memimpikan hal yang sama, Bahwa di luar dunia yang kita kenal saat ini ada dunia lain yang mengantarkan sepaket takdir yang berbeda. Bahwa di suatu tempat di luar sana, ada diri kita yang lain, yang tidak terpenjara tangan-tangan takdir yang sesungguhnya hanyalah konsekuensi dari pilihan-pilihan masa lalu kita. Cara berpikir khas para pemimpi, jika kita tak bicara dari probabilitasnya dalam sudut pandang fisika.

Dari ketakberdayaan itulah cerita Dunia Paralel beranjak. Vian seorang pembuat film dan Medy seorang penulis bertemu di bandara saat pesawat mereka sama-sama delay. Pertemuan singkat itu ternyata menggetarkan hati mereka, padahal mereka masing-masing sudah terpaut janji dengan orang lain. Keluasan imaginasi mereka sebagai pekerja seni membawa mereka mengkhayalkan dunia paralel, bahwa ada Vian dan Medy di dunia yang lain dalam kondisi yang memungkinkan segala sesuatunya bagi cinta mereka. Medy sesungguhnya yang pertama kali memiliki ketertarikan menulis novel tentang dunia parallel. Vian kemudian sepertinya tanpa disadari juga terobsesi untuk membuat film bertema sama setelah bertemu dengan Medy. Bisa jadi ini merupakan katarsis dari tak kuasanya ia mewujudkan asa dalam hidup yang sesungguhnya.

Cinta dan ketakberdayaan yang bersimpuh di hadapan keperkasaan takdir adalah mata air inspirasi yang tak pernah kering. Micki Mahendra berangkat dari titik itu. Ia melalui tokoh-tokohnya mempertanyakan kemungkinan dunia paralel itu betul-betul terjadi saat kenyataan terasa mencekik leher dengan segala keterbatasannya.

Sayangnya, pertanyaan tinggal pertanyaan yang tak pernah dieksplorasi lebih jauh. Dunia paralel kemudian memang hanya khayalan. Tadinya saya berharap bahwa Micki punya keberanian memadukan cerita cinta yang manis pahit ini dengan sudut pandang fisika yang mengeksplorasi berbagai kemungkinan. Tapi tidak, itu lagi-lagi hanyalah khayalan kosong para pemimpi.

Cinta terjalin antara Vian dan Medy dalam pertemuan yang singkat. Hal seperti ini umum terjadi dan selalu sulit dijelaskan. Ada kecocokan chemistry antara keduanya. Ada energi magic yang terjadi, semua lelaki dan perempuan dewasa yang pernah jatuh cinta pasti paham maksud saya. Tapi percakapan-percapakan yang terjadi di antara mereka justru terasa sangat pemukaan

Bisa jadi seharusnya inilah kelebihan novel. Micki mungkin bisa menceritakan apa yang dialami tokoh-tokohnya, aura keakraban yang tercipta dengan cepat di antara mereka. Micki sebetulnya punya kapasitas ini. Terlihat misalnya dari bagaimana ia bisa menceritakan kondisi bandara secara terperinci. Sebetulnya, gejolak perasaan tokoh-tokohnya bisa dieksplorasi lebih banyak lagi.

Beberapa tahun kemudian mereka berjumpa lagi ketika Vian tengah menyelesaikan scriptnya untuk film dunia paralel dan ia membutuhkan penulis pembantu. Rekannya, Aleta membawa Medy yang pernah menulis novel dengan tema serupa kepadanya. Seolah tangan takdir melemparkan mereka bertemu lagi.

Percikan api itu kembali menyala. Di sinilah sebetulnya peluang Micki untuk mengeksplorasi relasi Vian dan Medy lebih dalam. Apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pikirkan apalagi setelah mereka tiba-tiba bertemu kembali, apa sih sebetulnya yang terjadi dengan relasi mereka masing-masing? Apakah ada persoalan sehingga mereka merasa tak terpuaskan? Atau segala sesuatu berjalan terlalu mulus, sehingga mereka justru merindukan tantangan baru?

Sebagai pembaca, saya menunggu konflik yang cukup serius. Saya ingin dibuat yakin bahwa bangunan emosi di antara mereka berdua sungguh kuat sehingga kondisi itu memang dilematis, bukan sekedar riak kecil karena ketertarikan yang bersifat fisikal. Sayangnya, pengisahan relasi Vian dan Medy pun lagi-lagi terasa sangat di permukaan. Di antara mereka bahkan bisa dibilang tak ada percakapan yang cukup dalam, tak ada peristiwa yang cukup menggetarkan yang bisa membuat pembaca yakin bahwa cinta mereka bisa bertahan sampai akhir zaman. Meskipun saya mesti mengakui bahwa percakapan antara mereka berdua di malam terakhir itu memang bikin terharu, huhuhu. Dan sebagai orang yang pernah berada pada kondisi serupa, saya betul-betul bisa membayangkan apa yang mereka rasakan.

Selain itu, dunia paralel kemudian hanya jadi serupa tempelan dalam novel ini. Ia muncul sebagai wacana yang diungkapkan Medy kepada Vian tentang teori dunia paralel dari Max Tegmark. Dan itu sebetulnya bisa jadi jauh lebih menarik jika turunan teorinya betul-betul dileburkan dalam konteks relasi Medy dan Vian. Saya pun jadi mengkhayalkan, andai dalam buku ini pun ada beberapa skenario yang bisa terjadi di antara mereka. Ada Medy dan Vian yang melakukan pilihan-pilihan yang sama sekali berbeda dengan yang terjadi di akhir cerita (nggak mau nyebut ya, nanti spoiler hehehe). Bisa saja ada beberapa skenario yang dimunculkan. Dan pembaca bisa dibuat terkecoh beberapa kali karena tidak tahu skenario manakah yang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata Medy dan Vian.

Cerita ini sesungguhnya masih amat potensial untuk digarap dan dikembangkan lebih jauh. Dan saya melihat Micki memiliki kapasitas sebagai pencerita yang baik, sweet tanpa harus jadi mendayu-dayu dan telaten pada deskripsi. Saya merasakan ia memiliki bakat lebih dari pada yang sudah ditunjukkannya, kalau saja ia (dan tokoh-tokohnya) bisa lebih berani berkhayal, tanpa malu-malu.

Akhir kata, Ayo Micki nulis lebih banyak lagi yaaaa...


Micki: Thx Feb, I will write again.



Thursday, September 13, 2007

Dunia Paralel, tersedia versi braille untuk tuna netra


Semoga Dunia Paralel juga bisa dinikmati tuna netra.
Please check http://www.mitranetra.or.id/ebook/index.asp?mnu=3
ada keterangan bagaimana memperolehnya disana.
Tersedia 1000 buku untuk tuna netra





Monday, April 09, 2007

Dunia Paralel: Benarkah Ia Ada?

Review Dunia Paralel By Jaf

8 04 2007

Ide tentang dunia paralel selalu menarik perhatian saya, terutama sejak saya menonton film Sliding Doors (1998) yang dibintangi si cakep Gwyneth Paltrow. Karena itulah ketika saya menemukan buku berjudul sama di Gramedia Jogjakarta dalam kesempatan tugas ke sana awal Maret lalu, saya langsung saja menyambarnya dari rak tanpa pikir panjang lagi.

Dunia Paralel sebetulnya bukan buku baru. Dia terbit tahun 2006 lalu dan ditulis oleh Micki Mahendra yang belakangan saya temukan blognya disini. Tokoh sentralnya adalah Vian, seorang sutradara wanita muda. Suatu hari hidup mempertemukannya dengan seorang novelis bernama Medi di bandara yang tengah hiruk pikuk karena berbagai penerbangan yang tertunda gara-gara cuaca buruk. Pertemuan singkat yang cukup intens dan sempat menautkan hati keduanya hingga ke suatu titik dimana mereka merasa ditakdirkan satu sama lain, meskipun pada akhirnya mereka harus kembali ke kehidupan masing-masing. Dalam novel itu mereka digambarkan kembali bertemu dan sempat ‘mencoba’ kembali menyatukan hati yang terpaut di bandara waktu itu. Namun upaya itu gagal, karena magnet dari kehidupan masing-masing rupanya lebih kuat untuk kembali memisahkan keduanya.

Adalah cara Micki menarik ulur kehidupan percintaan kedua tokoh sentral dengan alur maju mundur yang membuat cerita ini menarik. Diawali dari pertemuan keduanya di bandara lalu alurnya maju jauh ke masa depan dimana seorang nenek (hayo tebak siapa) tengah bercerita dengan cucunya, lalu kembali ke masa lalu dan seterusnya. Alur maju mundur yang sebenarnya sederhana sekali. Memang ada kesan di tengah jalan alur ceritanya sempat kedodoran namun Micki sanggup menariknya kembali ke alur cerita semula dan menutupnya dengan cara yang sangat menarik. Sebuah penutupan yang di satu sisi melegakan pembaca yang sudah keburu kepincut dengan kisah cinta Medi dan Vian, namun disisi lain juga terasa menyakitkan karena keduanya sebenarnya tidak bisa dikatakan bertemu. Apa maksudnya, wah.. kalau saya ceritakan disini ya nggak seru dong.

Sayang, buat saya ada sedikit bagian yang cukup mengganggu yakni ketika Vian diceritakan mengembangkan sebuah film yang dilatarbelakangi konsep dunia paralel. Saya sebut menganggu karena ide dunia paralel itu sebetulnya milik Medi yang pernah diceritakan pada Vian ketika mereka tengah bertemu di Bandara. Tidakkah Vian sadar itu? Tidakkah Medi keberatan idenya di ‘comot’ begitu saja bahkan kemudian Medi terlibat membantu produksi film tersebut? Tidakkah penulisnya sadar tentang hal ini? hehe..

Ketertarikan saya pada konsep dunia paralel membuat saya membeli novel ini. Micki melihat konsep ini dari sisi lain yang berbeda dari yang selama ini saya pahami, meskipun saya harus sedikit bersabar untuk menafsirkannya karena ia tidak dikembangkan lebih dalam di novelnya. Mereka yang tertarik pada ide dunia paralel mungkin baru akan menemukan jawabannya beberapa belas lembar menjelang akhir dan mungkin saja langsung bisa menebak bagaimana sang penulis mengakhiri cerita ini. :)

Great piece of work, Mick.. :) Membuat saya makin bertanya-tanya, benarkah dunia paralel itu ada? Apa sih yang tidak mungkin di dunia ini, walaupun bisa jadi ia hanya pembenaran dan tempat pelarian dari mereka-mereka yang belum puas dengan dunianya sekarang sehingga berharap jalan cerita hidupnya di dunia yang paralel akan lebih bagus hehehehehe…

Judul Buku: Dunia Paralel
ISBN: 979-794-026-8
Penulis: Micki Mahendra
Penerbit: MediaKita

ps: Buat yang tertarik, saya pernah menulis tentang Dunia Paralel di blog lama (http://www.geocities.com/ranehafied/c2w/dunia_paralel.htm)yang masih bermukim di geocities. :p