Thursday, January 17, 2013

Match Made In Heaven....

Simple salad dressing is the best.
There, I've said it.

Daripada dressing yang macem-macem, just 3 part of olive oil and 1 part of balsamic vinegar will give your salad a better taste. Add little salt and pepper if you like.

I learn it long a go, when I used to have lunch at BEJ, which is next to my old working place.

Intrique by interesting bottle, I ordered the salad.
(as a meatlover, jarang banget makan salad - paling jauh salad buah atau coleslaw)
Sejak itu, I like salad. Hell, I eat leaf like a goat now.

It is a revelation to me
Sometimes everything must be made simple to be beautiful. And tasteful. 


Wednesday, January 16, 2013

Pulu-pulu Arabica Toraja Coffee

Here's another obsession of mine. Coffee.

Kalau kamu udah minum kopi tanpa gula dan bisa menikmatinya, nah, toss kita!!

Gak sengaja baca di majalah bintaro kalau ternyata di pasar graha raya ada seorang pecinta kopi yang kerjanya keliling daerah, mencoba kopi tradisional dan membelinya.
Si Om ini, memang bener-bener pecinta kopi, makanya dia bela-belain beli kopi yang 'gak umum'.

Pas suatu saat sehabis shooting TVC woman one untuk BII -  yang kebetulan ternyata berlokasi di pasar modern graha raya, I make a decision to visit his shop.

Si Om ini baik banget, dia tanya, "sukanya biasa kopi apa?"
"Aceh gayo...ada hints of chocolatenya, atau java jampit"

"Ok. Sekarang, coba yang lain ya, ini namanya pulu-pulu...kayaknya di jakarta hanya kita deh, gak tau juga, tapi ini jarang, saya roast medium, supaya exoticnya gak ilang", kata si Om lagi.

Ohh...menarik. Bahkan si om memperlihatkan beans yang belum di roast, yang lebih jarang lagi, katanya tunjuk aja mau yang mana, nanti saya roast. Si Om ini prakarya buat alat roasting sendiri..well, it works for me =), soalnya sepertinya gak ada beans yang gosong atau under roast (ada gak sih term ini? under roast?)

Gimana rasanya?

Arabika pulu-pulu toraja: Fruity, hints of PINEAPPLE, yeah, very different, yet perfect to start a morning with this mild to full body coffee.

You, coffee lovers, should go there!! ke Pasar modern Graha Raya, tanya aja beli kopi dimana.


This is an obsession: 1Q84

Murakami, Haruki...gak biasa-biasanya ada penulis yang bisa membuat obsessed. Tapi itulah yang terjadi. Di buku terbarunya, 1Q84 - each day mendekati akhir, rasanya kok makin takut selesai ...karena mungkin dia masih lama nulis lagi, atau masih lama jadinya...
Sementara sepertinya all of his novel (kecuali yang early years kali ya, yang pinball), i have read it. Including shorts compilations. 

Truly, not many can do such thing that he does. A remarkable writer, a memorable passages, an original, genuine Murakami. 



3 books in one (yea, I'm cheap) and now looking for the news if he's currently writing a new one. 
This is an obsession. 






Tuesday, May 29, 2012

We didn't change our luck.



No we don't 
We didn't 
We never will.
not the 8th ball, or even the 13th ball.
Luck is predetermined.
Coincidence is an illusion.
But hope is real.


Tuesday, May 22, 2012

Feels like one million....(dollar?)

When talking about men fragrance, or eau de toilette, i have very little knowledge....
Mungkin karena jarang beli ya.
Selalu ada relatives, atau teman yang beliin, buat kado and I don't mind at all. 
* Gak percaya takhayul kado parfum berakibat permusuhan =)

Anyway, what's my list? mmm, yang pernah ada di kamar dari remaja sampe sekarang adalah:
Eternity, Paco Robanne Xs, Davidoff coolwater, Bvlgari, hugo boss yang kayak botol tentara itu..., and...thats it...sebagian beli, kebanyakan dikasih. =)

Dan hugo boss udah abis, ...tunggu beberapa lama, no relatives or friend giving me that kind of gift. 
Oh, ok, maybe its time for me to buy.

Setelah jalan-jalan, mikir-mikir, testang testing..(testang?)
pilihan jatuh pada Paco Robanne one million. Mm, this on makes me feel like a million dollar. I mean, whats not to love? Noticeable scent, not to mention that Gold Casing, truly a million dollar flavor...A One million to be precise.



It has a hints of grapefruit, or blood orange, cinnamon, blond leather etc....(nyontek - tenang, jangan protes) - anyway, I like the scent and the way it makes me feel.










So... sampe rumah, spray in my pulsating skin (e.g wrist, back of the neck, neck, behind my ears...) and waiting for the wife makes a comment.

"Smells like dettol", she said.



Really?!!!!

Saturday, January 14, 2012

Restoration

My bike.
Restoration process.


Honda CB 100 th 1073. Motor tua, gak pantes dibilang koleksi, karena gak terawat-terawat amet. Ga pantes dibilang klasik, karena gak ori-ori amet (pake CDI lagi), pantesnya hanya satu kata. Asik ;P

But, I'm thinking of selling it, and get a bigger one, and perhaps, more older than 73.

Wednesday, January 11, 2012

Parklife

Yeaa...parklife. Di Jakarta ada dimana?
sebenernya banyak sih, salah satunya di taman menteng ini.
Lokasinya ada di Menteng, tempat jaman dulu sering dipakai trek trekan mobil ala Fast n furious.
Tapi, on Sunday afternoon, its quite nice.
Matahari gak panas, mobil gak terlalu banyak...not too bad *as in not too polluted our lung*


Ada tempat mainan anak-anak, ada tempat pameran, ada beberapa komunitas yang latian dan nongkrong disini kaya capoiera, futsal, bahkan ada yang nyanyi2 'PD' pake loudspeaker.

I love it. We need more place like this.


Pengen sih ke taman Surapati, yang juga kalo hari minggu banyak yang latian strings dll,... tapi kayaknya parkirnya susah. 
I think taman menteng ini salah satunya yang   parkirnya enak, tamannya ada.

so if your looking for parklife, maybe this Taman Menteng (gak tau nama aslinya), can be your option.



Sunday, October 16, 2011

Where have you been ? it has been 2 years...


Ini postingan pertama setelah lama vakum nulis di blog ini.
Apa yang terjadi?
Well... a lot pastinya...tapi for me, this is what i remember so far:

lots of project...
trade in my car for a kick-ass European sedan..(that has fuel consumption 1.66 *sigh)
developing an obsession to Haruki Murakami's writing (I  got all his novels)
Baraka dan Karama makin gede...
New editing system in my office (move from adobe to FCP)
Have a desire to publish another novel...then look it my manuscript, edit and forgot....kayaknya berlangsung 3 cycle dalam dua tahun terakhir ini....i guess i gotta want it more...
Dulu juga sibuk tapi bisa, kenapa sekarang tidak?

We have our ups and downs..but that is the way that I like it.
We do not need to be constant
We don't want to be stagnant
So let's move on ...
I promise to update.





Friday, June 19, 2009

Domba Africa



Sebenernya tulisan di spanduknya adalah sate domba Africa.
Tapi, kenyataan, it's nothing like sate...
gak ada tusuk-tusukannya.

Kalo kamu suka kambing - (I refered kambing as a food ya...) kamu akan suka ini.
Gak terlalu bau kambing, - secara memang domba, bukan kambing...

Pertama-tama, ya ditanya adalah, berapa??

"Seporsi 35 ribu rupiah," kata abangnya.

Ok, lah, lebih mahal dari sate kambing, tapi toh ini bukan sate kambing.


Trus, tanpa ditanya lagi, si abangnya yang baik itu menjelaskan, kalo di Africa, makannya seperti ini...

Seperti apa, bang?

"Ya seperti ini, gak pake tusukan sate," kata si abang sambil nyengir ...(lah..kenapa situ nulisnya sate ya?)


trus makannya pake apa, bang?

"Pake bawang bombay, di slice, di potong kecil-kecil, pake sambel, kecap dan mayo
naise," kata dia sambil nunjukin materialnya.

Hmmm...sounds good.
"Pesen satu, bang!"
"Paha atau iga?"
"Iga aja."


Mulailah si abang ngambil domba yang udah di rebus, di marinate, sehingga menurut pengakuannya kolestrolnya udah ga
k ada...yea yea yea...terserah...

iga domba itu di chop, segede bite size lah...
lalu dia manasin grillnya...
udah gitu di taruhlah domba-domba setengah jadi itu diatas api...
smells delicious...believe me.

Sementara itu si ibunya slice bawang bombay kira-kira setengah sentian.

Setelah panas, apakah langsung di campurin ke saus nya? nggak!

Si abang melakukan manuver yang berbeda.
Dia ngambil panci aluminium, daging domba itu dimasukin kesana, trus dimasukanlah slice bawang-bawang tadi...
dikasih bumbu-bumbu merica garem ...

di taruhnya panci itu di atas grill...

Woww...baru nih...
trus ...setelah panas, diangkat panci itu dan di kocok kaya' bikin pop corn traditional...(pake panci tertutup itu loo)
trusss...di taruh lagi sebentar diatas api.
Trus jadiii....

waawwww....
terpesona dengan manuve
rnya, bertanyalah dengan ekspresi masih terkagum-kagum*..

"Belajar dimana, bang?"

"Ooo...saya dulu kerja...," katanya sumringah...bangga...

hebat juga si abang, udah sampe africa, gue paling banter nyampe arab...

"kerja di africa?"
"bukan, dulu saya kerja sama orang africa di tanah abang,"

"..."
kirain...


anyway...
layak di coba...

* dinikmati bersama mayonaise dan pisang yang digoreng tanpa minyak..
yummy.
adanya di bintaro, keluar tol sektor 7, belok kiri, mentok kanan, ada di kanan...
=)






Tuesday, May 19, 2009

Hunger strike


Namanya manusia, pasti punya kepengenan.
Beberapa hari yang lalu, waktu gak jadi lembur di kantor, sampai rumah udah gak ada makanan.
Ya udah, akhirnya, sambil nonton entourage di HBO, ngebuka kulkas.

Liat di dalem, ada terong/obergee jepang, lettuce, paprika, olive oil extra virgin, balsamic vinegar. Mayan de
h, bisa buat salad. Mungkin emang harus makan sehat malem ini, pikirku.
Trus, masuk dapur...nyalain kompor, panggang terong dan paprikanya sampai hitam dan lembek. Sementara itu, cuci lettuce, taruh di salad bowl. Setelah grilled obergee dan paprika selesai, pindahin dan bersihin dari gosong-gosongnya (kalo gue sih suka sisain dikit, biar ada smokey-flavournya.) Potong kecil-kecil (bite size) dan campurin.

Apa lagi ya, wah, kurang nih...balik lagi ke kulkas, ada telor. Rebus dua biji, sampe mateng, potong kecil2...dicampurin. Hmm, need an extra kick. 3 bawang putih dan bawang merah, di grill juga. Trus di crush, dan dicampurin. Terakhir, baru kasih olive oilnya, garem, black pepper, balsamic vinegar, trus di aduk2 deh....


Makan sambil nonton. Gile enak banget.



Sementara itu, Joy keluar dari kamar. Ke lemari ambil indomie kering, di crush, trus ambil sendok kecil, langsung dimakan setela
h di kocok-kocok sama garem dan cabenya. Gue liatin aje...gak sehat banget sih.
Film berganti. Rocky Balboa (I think it's a beautiful movie, by the way...)
Tengah-tengah film, buset deh. Laper lagi.

Buka kulkas, buka lemari...gak ada ide bikin apa-apa.
Akhirnya, ke lemari tempat indomie, buka, dan makan indomie kering.
Sialan.

There goes my healty meal.




Saturday, January 31, 2009

Mr. Nice Guy?

Ada macem-macem orang di dunia ini.

Dari mulai yang p
aling baik, sampe yang paling licik atau jahat;
Moga-moga gak pernah ketemu sama yang paling jahat dan licik yah...Tapi ketemu orang baik
sepertinya lebih sering.. Alhamdulilah. Merekalah para Mr. Nice guy (ini maksudnya termasuk yang cewek yah, cuman gimana gitu kalo di tulis sebagai Ms. Nice gal...hehehe, so ladies, Mr. Nice Guy is... including you, if you are nice, of course...)

Eh..eh, tapi ternyata Mr. Nice guy ini sering jadi bulan-bulanan...
Di makan abis abisan sama sama 'shark' type business man (and woman too, of course)...
Orang sih sering ngomongnya, nice guy finished first...

Hold that thougt!
Is it so wrong to be nice?
I don't think so...

...coba pikir deh,
Ada orang yang gak peduli sama orang lain, yang penting adalah kepentingan dia, urusan bisnisnya dia dll dll...is it fun to do business with that kind of people?
mereka mungkin kayaknya dapet apa yang mereka mau, tapi sebenernya...untuk berapa lama? untuk berapa kali? do they know that people leave bosses, not company? or people just don't stand to be where they are? is it about money? is it about power? is it about you?
is it like the strange obsession, like a symptom where all the teenage girls would prefer to gather around bad boys? - so you feel the needs to be bad?

be kind, be honest, be good, and be nice.











Wednesday, January 07, 2009

All bikers are brothers...


Suatu saat, my vintage bike mogok...
there's nothing wrong with it...it only lacking of small element that needed to run it.
A small thing that called...Gasoline...huuu
iya, mogok karena kehabisan bensin...silly me...

Itu terjadi di jalan kecil...menuju bintaro...
gak ada pom bensin di sekitar situ...
bahkan gak ada bensin eceran yang biasanya dijual di dalam botol bening bekas vodka atau coca cola...
to make things worse...aku harus ngedorong motor yang lumayan berat itu melewati trowongan...trus tanjakan 45 derajat...
sepanjang kira2 50 meter...dan habis itu juga pom bensin masih setengah kilo

ya udah...doronglah tuh...
pas kira-kira udah ampir sampai tanjakan, another vintage bike pull over.

"Mogok mas?" katanya. Ya iyalah mogok, masa gue iseng, kataku dalam hati.
Trus dia bantuin dorong dengan cara menginjakkan kakinya ke rubber step motorku...trus dia nganterin dengan cara itu sampai pom bensin. Pas nyampe, di muter...
"Ok, mas, udah safe ya sekarang...", kurang lebih gitu katanya...
"Makasih, ya," kataku
Trus dia senyum dan melanjutkan perjalanannya...
I never get a good look of my helper that night...karena dia selalu dibelakang, mendorong motorku...but I'm glad for his help.

Indeed, we are brothers in some way...

meski sering pas naik mobil marah sama orang-orang yang naik motor yang 'gak sopan' ridingnya...meski sering memandang mereka sebagai 'nyamuk' penganggu jalanan...
but some people just nice...
helpful...
and i'm thankful.


Monday, November 24, 2008

Kaca


Kapan kita ngaca?

Tiap pagi? tiap abis mandi, atau bahkan tiap kali kita jalan di mall...ada pantulan kaca, kita ngaca? (gue banget nih...)
tapi apa refleksi yang kita lihat di kaca itu bener-bener kita?
atau...cuma presepsi yang ditentukan berdasarkan pengalaman bahwa itu adalah kita?
The question is,...do you really know yourself?
Who is me?
is that really me?
pada akhirnya kita hanya pantulan sinar yang terefleksi di material yang disebut kaca. Itu yang kita percaya?


Thursday, September 18, 2008

Dunia Paralel Review, by Feby Indirani (writer of Simfoni Bulan)



Novel ini sampai di pangkuan saya tepat saat saya sedang memimpikan hal yang sama, Bahwa di luar dunia yang kita kenal saat ini ada dunia lain yang mengantarkan sepaket takdir yang berbeda. Bahwa di suatu tempat di luar sana, ada diri kita yang lain, yang tidak terpenjara tangan-tangan takdir yang sesungguhnya hanyalah konsekuensi dari pilihan-pilihan masa lalu kita. Cara berpikir khas para pemimpi, jika kita tak bicara dari probabilitasnya dalam sudut pandang fisika.

Dari ketakberdayaan itulah cerita Dunia Paralel beranjak. Vian seorang pembuat film dan Medy seorang penulis bertemu di bandara saat pesawat mereka sama-sama delay. Pertemuan singkat itu ternyata menggetarkan hati mereka, padahal mereka masing-masing sudah terpaut janji dengan orang lain. Keluasan imaginasi mereka sebagai pekerja seni membawa mereka mengkhayalkan dunia paralel, bahwa ada Vian dan Medy di dunia yang lain dalam kondisi yang memungkinkan segala sesuatunya bagi cinta mereka. Medy sesungguhnya yang pertama kali memiliki ketertarikan menulis novel tentang dunia parallel. Vian kemudian sepertinya tanpa disadari juga terobsesi untuk membuat film bertema sama setelah bertemu dengan Medy. Bisa jadi ini merupakan katarsis dari tak kuasanya ia mewujudkan asa dalam hidup yang sesungguhnya.

Cinta dan ketakberdayaan yang bersimpuh di hadapan keperkasaan takdir adalah mata air inspirasi yang tak pernah kering. Micki Mahendra berangkat dari titik itu. Ia melalui tokoh-tokohnya mempertanyakan kemungkinan dunia paralel itu betul-betul terjadi saat kenyataan terasa mencekik leher dengan segala keterbatasannya.

Sayangnya, pertanyaan tinggal pertanyaan yang tak pernah dieksplorasi lebih jauh. Dunia paralel kemudian memang hanya khayalan. Tadinya saya berharap bahwa Micki punya keberanian memadukan cerita cinta yang manis pahit ini dengan sudut pandang fisika yang mengeksplorasi berbagai kemungkinan. Tapi tidak, itu lagi-lagi hanyalah khayalan kosong para pemimpi.

Cinta terjalin antara Vian dan Medy dalam pertemuan yang singkat. Hal seperti ini umum terjadi dan selalu sulit dijelaskan. Ada kecocokan chemistry antara keduanya. Ada energi magic yang terjadi, semua lelaki dan perempuan dewasa yang pernah jatuh cinta pasti paham maksud saya. Tapi percakapan-percapakan yang terjadi di antara mereka justru terasa sangat pemukaan

Bisa jadi seharusnya inilah kelebihan novel. Micki mungkin bisa menceritakan apa yang dialami tokoh-tokohnya, aura keakraban yang tercipta dengan cepat di antara mereka. Micki sebetulnya punya kapasitas ini. Terlihat misalnya dari bagaimana ia bisa menceritakan kondisi bandara secara terperinci. Sebetulnya, gejolak perasaan tokoh-tokohnya bisa dieksplorasi lebih banyak lagi.

Beberapa tahun kemudian mereka berjumpa lagi ketika Vian tengah menyelesaikan scriptnya untuk film dunia paralel dan ia membutuhkan penulis pembantu. Rekannya, Aleta membawa Medy yang pernah menulis novel dengan tema serupa kepadanya. Seolah tangan takdir melemparkan mereka bertemu lagi.

Percikan api itu kembali menyala. Di sinilah sebetulnya peluang Micki untuk mengeksplorasi relasi Vian dan Medy lebih dalam. Apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pikirkan apalagi setelah mereka tiba-tiba bertemu kembali, apa sih sebetulnya yang terjadi dengan relasi mereka masing-masing? Apakah ada persoalan sehingga mereka merasa tak terpuaskan? Atau segala sesuatu berjalan terlalu mulus, sehingga mereka justru merindukan tantangan baru?

Sebagai pembaca, saya menunggu konflik yang cukup serius. Saya ingin dibuat yakin bahwa bangunan emosi di antara mereka berdua sungguh kuat sehingga kondisi itu memang dilematis, bukan sekedar riak kecil karena ketertarikan yang bersifat fisikal. Sayangnya, pengisahan relasi Vian dan Medy pun lagi-lagi terasa sangat di permukaan. Di antara mereka bahkan bisa dibilang tak ada percakapan yang cukup dalam, tak ada peristiwa yang cukup menggetarkan yang bisa membuat pembaca yakin bahwa cinta mereka bisa bertahan sampai akhir zaman. Meskipun saya mesti mengakui bahwa percakapan antara mereka berdua di malam terakhir itu memang bikin terharu, huhuhu. Dan sebagai orang yang pernah berada pada kondisi serupa, saya betul-betul bisa membayangkan apa yang mereka rasakan.

Selain itu, dunia paralel kemudian hanya jadi serupa tempelan dalam novel ini. Ia muncul sebagai wacana yang diungkapkan Medy kepada Vian tentang teori dunia paralel dari Max Tegmark. Dan itu sebetulnya bisa jadi jauh lebih menarik jika turunan teorinya betul-betul dileburkan dalam konteks relasi Medy dan Vian. Saya pun jadi mengkhayalkan, andai dalam buku ini pun ada beberapa skenario yang bisa terjadi di antara mereka. Ada Medy dan Vian yang melakukan pilihan-pilihan yang sama sekali berbeda dengan yang terjadi di akhir cerita (nggak mau nyebut ya, nanti spoiler hehehe). Bisa saja ada beberapa skenario yang dimunculkan. Dan pembaca bisa dibuat terkecoh beberapa kali karena tidak tahu skenario manakah yang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata Medy dan Vian.

Cerita ini sesungguhnya masih amat potensial untuk digarap dan dikembangkan lebih jauh. Dan saya melihat Micki memiliki kapasitas sebagai pencerita yang baik, sweet tanpa harus jadi mendayu-dayu dan telaten pada deskripsi. Saya merasakan ia memiliki bakat lebih dari pada yang sudah ditunjukkannya, kalau saja ia (dan tokoh-tokohnya) bisa lebih berani berkhayal, tanpa malu-malu.

Akhir kata, Ayo Micki nulis lebih banyak lagi yaaaa...


Micki: Thx Feb, I will write again.



My Finest Hours



These last few months were not my best months...

Ramadhan ini biasanya sering membuat kita melihat refleksi diri dengan lebih bening.
*betul gak tuh? kalo lebih bening bukannya refleksinya makin gak keliatan? lebih mantul kali ya, yang bener.....huaahh eniwey...
kerjaan lagi lesu, kreatifitas? lagi standar-standar aja...stress level? naik pelan-pelan..
uang? menipis pelan-pelan...huuu...
Kalo udah begini, biasanya aku ke supermarket, belanja bahan makanan, dan masak. Yeah...it's my comfort zone...

Doing groceries and cooking, ask my friend, they tell you the same th
ing.
Sementara masak, preparing food...aku sering berpikir, kenapa ya...why..? why its not as good as it used to be? why don't I have more money? (aku emang kalo berpikir biasanya pake bahasa ainglaish, meski ngaco)...sampe lama-lama pikiran negatif itu ilang dalam masakan..., setelah makan, hopefully positive thoughts will take over. Mungkin gak ya kali ini?
mmm..susah...tapi tunggu..
tahun ini aku membaca 3 buku dari Haruki Murakami yang membuatku semangat menulis lagi...aku dan teman-teman SMA ku kembali bikin band (the Most Untalented Band I ever known =))...tahun ini istriku insha Allah hamil anak ke dua...Baraka udah makin lucu dan belagu ajaa...
hey...I'm actually happy, it turns out to be my finest hours...

karena salah satu doa adalah meminta Allah untuk tidak menjadikan kami orang yang merugi, yaitu orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Tidak hanya urusan uang...urusan makan...tapi semua urusan dijadikan satu.

seorang bijak pernah berkata,"kumpulkan segala kegalauanmu, dan kembalikan pada yang punya",(Yes...He means gave it all back to Allah)

Jadi, I think my finest hours is yet to come. Look forward for it

yang maha esa
yang maha mebolak-balikkan hati
yang maha kaya
yang maha pemurah
yang maha...kuasa.

Friday, May 30, 2008

Every step we make is moved by Allah's will

Dulu, tahun 2006 pernah menulis tentang control is ilusion
Sekarang, semakin tebal keyakinannya.

Siapa yang jagain Baraka?
- Biar gimana pun dijagain, digigit nyamuk juga kalo tidur...
Siapa yang jagain rumah ?
- Mau diapain juga pernah kemalingan ...dua kali lagi
Siapa yang jagain harta ?
- Mau di timbun kepake juga...(nimbun gak boleh juga sih...)
Siapa yang jagain pekerjaan ?
- Mau dicari sampe mampus kalo belum dateng ya belum adaa...

Ternyata, aku tidak usah kuatir. =)
Rejeki sudah ada yang ngatur, dan tidak satupun luput dari perhatiannya. Bahkan, daun pun jika ingin jatuh ke tanah pasti atas izin-Nya.
Manusia porsinya berusaha, bukan ngatur. Jadi aku tidak berusaha mengatur apa-apa. Aku hanya mengerjakan apa yang perlu kulakukan.
Aku bosan mendengar orang berkotbah tentang persiapan, jaminan, asuransi, lebih baik active dari pada reactive, lebih baik a dari b, lebih baik c dari d dst dst....

Cukup ALLAH wakilku...Hasbunallah Wa nimal Wakil.
Dia yang maha Mencukupkan.
Walk on son...don't be afraid.
And for all of us...learn from it.









Tuesday, February 05, 2008

Jakarta Macet?


Ya, semua orang udah pada tahu, Jakarta bakal macet kalo:
- jam kantor mulai atau abis - bahkan saat makan siang
- ujan dikittt aja
- ada iring2an VIP lewat
- Demo

Ya gimana nggak, salah satu resiko tinggal di negara yang tidak merata penyebaran kemakmurannya ya seperti ini. Semua manusia tertarik ke yang paling makmur, dalam kasus kita, Jakarta.

Jadi gimana?
Mau marah sama pemerintah? sok atuh, kalo gak cape di cuekin (e..chape deh - mendingan baca quot-quot lucunya Chincha Lawra :P)
Mau ngatur jalanan sendiri? udah gila kali ya...mau ngambil pasarnya Pak Ogah dan polisi cepe' an
Mau naik kendaraan umum dan meninggalkan mobil karena capek macet? terlalu lamaaaa...kecuali aku tinggal di sudirman, dan mau jalan sekitar jalur busway (dengan catatan - jalur busway yang gak banjir)

Aku beli motor.
Gak sembarang motor, bukan bebek-bebekan, bukan motor besar, bukan scooter...tapi vintage. Honda CB100 th 73.
Belum jadi sih sekarang, tinggal cat (yang designnya belum fix) dan ganti jok.

Lumayan, gak gitu macet lagi rasanya.
Tapi lebih dari itu, ternyata mataku dari atas 'sadel' motor vintage melihat dunia yang berbeda.
Karena mungkin tidak ada pembatas antara kaca mobil, pintu dll, aku melihat orang-orang yang gak pernah kuperhatiin sebelumnya.

Contoh, di suatu lampu merah aku sadar betapa orang buta/tuna netra hampir selalu terlihat tersenyum, dengan kaca mata dan tongkat putihnya. Ini menarik bagiku, karena mereka mau nyebrang jalan aja susah, tapi kalau kamu perhatiin, kebanyakan mereka senyum atau kalau kamu lebih suka - mereka nyengir. Di klakson- nyengir, di tolongin-nyengir, ampir kejeblos lubang - nyengir...gitu deh, coba perhatiin.

Anyway, ketika kulihat bapak buta ini kesulitan menyeberang, aku iba. Mau menolong, tapi motor mau taruh dimana? Di klaksonin orang dong kalo di lampu merah aku turun. Akhirnya, ada mas - mas yang menolong si bapak buta ini menyebrang, aku membaca bibirnya mengucapkan terima kasih, lalu nyengir lagi sambil nyebrang digandeng mas-mas berbudi baik itu.

Pak Buta, mungkin bapak bisa ajarkan pada dunia, terutama di Jakarta ini, dimana orang mengeluh terus tentang resesi, tentang utang, tentang ...macet..
mungkin bapak bisa ajarkan kami agar selalu tersenyum atau nyengir a la Stevie Wonder dalam menghadapi hidup ini.
Orang cuman sebentar kok, ya pak ya?Dunia cuma sementara kan ya pak ya...





Thursday, September 13, 2007

Dunia Paralel, tersedia versi braille untuk tuna netra


Semoga Dunia Paralel juga bisa dinikmati tuna netra.
Please check http://www.mitranetra.or.id/ebook/index.asp?mnu=3
ada keterangan bagaimana memperolehnya disana.
Tersedia 1000 buku untuk tuna netra





I'm in the Dark Here !!


Selama April sampai September ini, pekerjaan sepertinya tidak ada habisnya. Bahkan sampai sekarang belum habis. Sampai-sampai blog ini terlantar. =)
Banyak banget kekesalan, kejenuhan, kecapaian dan kemarahan kenapa pekerjaan documenter 65 episode ini tidak selesai-selesai. Sampai-sampai aku merasa bernasib sial. Dikejar klien, produser, deadline, kerusakan alat, kekurangan alat...nah kekurangan alat dan deadline ini mempunyai "side story" yang besar hikmahnya, setidaknya bagiku.

Begini ceritanya:
Ketika Producer sudah mulai khawatir kita tidak bisa menyelesaikan deadline, karena banyak hal...mulai di pikirkan untuk melengkapi RettoWasabi dengan satu mesin editing tambahan. Tentunya harus compatible dengan mesin pertama, agar jadi dua mesin paralel, bukan sendiri-sendiri. Mulailah pencarian hardware matrox Rtx100 extreme pro yang sudah discontinue.

Sebuah search engine mengantarkan kami ke seseorang bernama, sebut saja Ariel. Dia ingin menjual card matroxnya. Aku menelpon dan nego harga. Sepakat. Kuminta pada DOP ku untuk ke tempatnya mengambil card editing ini. Aku lupa, ada beberapa hal yang mesti kutanyakan, karena seri hardware dia denganku berbeda. Aku menelponnya kembali. Dalam pembicaraan ini, dia bertanya apakah kami kantor atau perorangan, mengerjakan apa, dan pertanyaan lainnya yang semacam itu. Pertama agak jengah mendengarnya. Aku merasa, kalau dia tahu aku sedang mengerjakan 65 episode untuk TV asing, mungkin dia akan menaikkan harga. Tapi ternyata tidak. Dan karena kami butuh editor tambahan, aku bertanya padanya.
"Ariel bisa ngedit?" tanyaku
"Dulu, sekarang nggak," kata Ariel, dengan nada tetap seperti biasa.
"Maksudnya? udah malas?" tanyaku lagi.
"Saya sakit mas, dulu sih ngedit terus, shooting juga," katanya lagi.
Aku terdiam, sakit apaan? sakit punggung kah? asma kah? akhirnya aku bertanya juga
"Sakit apa, riel?" tanyaku lagi, berlagak biasa.
"Saya udah gak bisa lihat mas," katanya juga seperti biasa. " Ada penyakit syaraf sepertinya, baru tahun ini, dulu sih shooting dan ngedit terus..."
Aku diam, berpikir dengan cepat, ngomong apa lagi nih...harus kedengaran biasa, tapi yang keluar adalah
"Oh, sori ya riel, gue nanya gini"
"Gak papa,"
Dari kejadian itu, tadinya aku yang merenungi nasib 'sial' dikejar deadline producer, dan lain-lain hilang begitu saja. Elo gak ada apa-apanya mik, paling masalah lo nama, uang, waktu. Dia masalahnya semua sudah gelap. Blackout. Buta total. Diem lo mik!
Akhirnya aku menelpon DOP ku yang sedang jalan mengambil barang,
"Zar, jangan di tawar lagi. Ambil aja dengan harga yang dia mau," kataku lagi. Mungkin ini tidak membantu banyak, setidaknya aku tidak akan menekan dia lagi. Dan dari DOP ku, aku tahu bahwa dia punya seorang istri dan anak yang baru lahir. Dan Ariel ini tetap menggunakan komputer tanpa monitor, dengan bantuan audible software, bahkan mungkin dia bisa membaca blog ini. Pusing mendengarnya.

Ya, Allah, hanya engkau yang tahu dan maha pemurah lagi maha penyayang.

Sekarang, setiap ada masalah pekerjaan yang menghantuiku, aku ingat Ariel, bukan pada kebutaannya, bukan pada kesialannya, tapi pada seseorang yang telah diberikan cobaan berat oleh Allah, namun tetap terdengar tenang. Seperti tidak ada apa-apa. Sementara aku yang dilimpahi pekerjaan, uang, lengkap dengan paket deadline tentunya, masih menggerutu. Malu.
Terima kasih Ariel, mengingatkan kita untuk bersyukur dengan ketabahan yang ditunjukan.
Maaf lahir batin, selamat puasa semua


Monday, April 09, 2007

Dunia Paralel: Benarkah Ia Ada?

Review Dunia Paralel By Jaf

8 04 2007

Ide tentang dunia paralel selalu menarik perhatian saya, terutama sejak saya menonton film Sliding Doors (1998) yang dibintangi si cakep Gwyneth Paltrow. Karena itulah ketika saya menemukan buku berjudul sama di Gramedia Jogjakarta dalam kesempatan tugas ke sana awal Maret lalu, saya langsung saja menyambarnya dari rak tanpa pikir panjang lagi.

Dunia Paralel sebetulnya bukan buku baru. Dia terbit tahun 2006 lalu dan ditulis oleh Micki Mahendra yang belakangan saya temukan blognya disini. Tokoh sentralnya adalah Vian, seorang sutradara wanita muda. Suatu hari hidup mempertemukannya dengan seorang novelis bernama Medi di bandara yang tengah hiruk pikuk karena berbagai penerbangan yang tertunda gara-gara cuaca buruk. Pertemuan singkat yang cukup intens dan sempat menautkan hati keduanya hingga ke suatu titik dimana mereka merasa ditakdirkan satu sama lain, meskipun pada akhirnya mereka harus kembali ke kehidupan masing-masing. Dalam novel itu mereka digambarkan kembali bertemu dan sempat ‘mencoba’ kembali menyatukan hati yang terpaut di bandara waktu itu. Namun upaya itu gagal, karena magnet dari kehidupan masing-masing rupanya lebih kuat untuk kembali memisahkan keduanya.

Adalah cara Micki menarik ulur kehidupan percintaan kedua tokoh sentral dengan alur maju mundur yang membuat cerita ini menarik. Diawali dari pertemuan keduanya di bandara lalu alurnya maju jauh ke masa depan dimana seorang nenek (hayo tebak siapa) tengah bercerita dengan cucunya, lalu kembali ke masa lalu dan seterusnya. Alur maju mundur yang sebenarnya sederhana sekali. Memang ada kesan di tengah jalan alur ceritanya sempat kedodoran namun Micki sanggup menariknya kembali ke alur cerita semula dan menutupnya dengan cara yang sangat menarik. Sebuah penutupan yang di satu sisi melegakan pembaca yang sudah keburu kepincut dengan kisah cinta Medi dan Vian, namun disisi lain juga terasa menyakitkan karena keduanya sebenarnya tidak bisa dikatakan bertemu. Apa maksudnya, wah.. kalau saya ceritakan disini ya nggak seru dong.

Sayang, buat saya ada sedikit bagian yang cukup mengganggu yakni ketika Vian diceritakan mengembangkan sebuah film yang dilatarbelakangi konsep dunia paralel. Saya sebut menganggu karena ide dunia paralel itu sebetulnya milik Medi yang pernah diceritakan pada Vian ketika mereka tengah bertemu di Bandara. Tidakkah Vian sadar itu? Tidakkah Medi keberatan idenya di ‘comot’ begitu saja bahkan kemudian Medi terlibat membantu produksi film tersebut? Tidakkah penulisnya sadar tentang hal ini? hehe..

Ketertarikan saya pada konsep dunia paralel membuat saya membeli novel ini. Micki melihat konsep ini dari sisi lain yang berbeda dari yang selama ini saya pahami, meskipun saya harus sedikit bersabar untuk menafsirkannya karena ia tidak dikembangkan lebih dalam di novelnya. Mereka yang tertarik pada ide dunia paralel mungkin baru akan menemukan jawabannya beberapa belas lembar menjelang akhir dan mungkin saja langsung bisa menebak bagaimana sang penulis mengakhiri cerita ini. :)

Great piece of work, Mick.. :) Membuat saya makin bertanya-tanya, benarkah dunia paralel itu ada? Apa sih yang tidak mungkin di dunia ini, walaupun bisa jadi ia hanya pembenaran dan tempat pelarian dari mereka-mereka yang belum puas dengan dunianya sekarang sehingga berharap jalan cerita hidupnya di dunia yang paralel akan lebih bagus hehehehehe…

Judul Buku: Dunia Paralel
ISBN: 979-794-026-8
Penulis: Micki Mahendra
Penerbit: MediaKita

ps: Buat yang tertarik, saya pernah menulis tentang Dunia Paralel di blog lama (http://www.geocities.com/ranehafied/c2w/dunia_paralel.htm)yang masih bermukim di geocities. :p