Thursday, September 13, 2007

Dunia Paralel, tersedia versi braille untuk tuna netra


Semoga Dunia Paralel juga bisa dinikmati tuna netra.
Please check http://www.mitranetra.or.id/ebook/index.asp?mnu=3
ada keterangan bagaimana memperolehnya disana.
Tersedia 1000 buku untuk tuna netra





I'm in the Dark Here !!


Selama April sampai September ini, pekerjaan sepertinya tidak ada habisnya. Bahkan sampai sekarang belum habis. Sampai-sampai blog ini terlantar. =)
Banyak banget kekesalan, kejenuhan, kecapaian dan kemarahan kenapa pekerjaan documenter 65 episode ini tidak selesai-selesai. Sampai-sampai aku merasa bernasib sial. Dikejar klien, produser, deadline, kerusakan alat, kekurangan alat...nah kekurangan alat dan deadline ini mempunyai "side story" yang besar hikmahnya, setidaknya bagiku.

Begini ceritanya:
Ketika Producer sudah mulai khawatir kita tidak bisa menyelesaikan deadline, karena banyak hal...mulai di pikirkan untuk melengkapi RettoWasabi dengan satu mesin editing tambahan. Tentunya harus compatible dengan mesin pertama, agar jadi dua mesin paralel, bukan sendiri-sendiri. Mulailah pencarian hardware matrox Rtx100 extreme pro yang sudah discontinue.

Sebuah search engine mengantarkan kami ke seseorang bernama, sebut saja Ariel. Dia ingin menjual card matroxnya. Aku menelpon dan nego harga. Sepakat. Kuminta pada DOP ku untuk ke tempatnya mengambil card editing ini. Aku lupa, ada beberapa hal yang mesti kutanyakan, karena seri hardware dia denganku berbeda. Aku menelponnya kembali. Dalam pembicaraan ini, dia bertanya apakah kami kantor atau perorangan, mengerjakan apa, dan pertanyaan lainnya yang semacam itu. Pertama agak jengah mendengarnya. Aku merasa, kalau dia tahu aku sedang mengerjakan 65 episode untuk TV asing, mungkin dia akan menaikkan harga. Tapi ternyata tidak. Dan karena kami butuh editor tambahan, aku bertanya padanya.
"Ariel bisa ngedit?" tanyaku
"Dulu, sekarang nggak," kata Ariel, dengan nada tetap seperti biasa.
"Maksudnya? udah malas?" tanyaku lagi.
"Saya sakit mas, dulu sih ngedit terus, shooting juga," katanya lagi.
Aku terdiam, sakit apaan? sakit punggung kah? asma kah? akhirnya aku bertanya juga
"Sakit apa, riel?" tanyaku lagi, berlagak biasa.
"Saya udah gak bisa lihat mas," katanya juga seperti biasa. " Ada penyakit syaraf sepertinya, baru tahun ini, dulu sih shooting dan ngedit terus..."
Aku diam, berpikir dengan cepat, ngomong apa lagi nih...harus kedengaran biasa, tapi yang keluar adalah
"Oh, sori ya riel, gue nanya gini"
"Gak papa,"
Dari kejadian itu, tadinya aku yang merenungi nasib 'sial' dikejar deadline producer, dan lain-lain hilang begitu saja. Elo gak ada apa-apanya mik, paling masalah lo nama, uang, waktu. Dia masalahnya semua sudah gelap. Blackout. Buta total. Diem lo mik!
Akhirnya aku menelpon DOP ku yang sedang jalan mengambil barang,
"Zar, jangan di tawar lagi. Ambil aja dengan harga yang dia mau," kataku lagi. Mungkin ini tidak membantu banyak, setidaknya aku tidak akan menekan dia lagi. Dan dari DOP ku, aku tahu bahwa dia punya seorang istri dan anak yang baru lahir. Dan Ariel ini tetap menggunakan komputer tanpa monitor, dengan bantuan audible software, bahkan mungkin dia bisa membaca blog ini. Pusing mendengarnya.

Ya, Allah, hanya engkau yang tahu dan maha pemurah lagi maha penyayang.

Sekarang, setiap ada masalah pekerjaan yang menghantuiku, aku ingat Ariel, bukan pada kebutaannya, bukan pada kesialannya, tapi pada seseorang yang telah diberikan cobaan berat oleh Allah, namun tetap terdengar tenang. Seperti tidak ada apa-apa. Sementara aku yang dilimpahi pekerjaan, uang, lengkap dengan paket deadline tentunya, masih menggerutu. Malu.
Terima kasih Ariel, mengingatkan kita untuk bersyukur dengan ketabahan yang ditunjukan.
Maaf lahir batin, selamat puasa semua


Monday, April 09, 2007

Dunia Paralel: Benarkah Ia Ada?

Review Dunia Paralel By Jaf

8 04 2007

Ide tentang dunia paralel selalu menarik perhatian saya, terutama sejak saya menonton film Sliding Doors (1998) yang dibintangi si cakep Gwyneth Paltrow. Karena itulah ketika saya menemukan buku berjudul sama di Gramedia Jogjakarta dalam kesempatan tugas ke sana awal Maret lalu, saya langsung saja menyambarnya dari rak tanpa pikir panjang lagi.

Dunia Paralel sebetulnya bukan buku baru. Dia terbit tahun 2006 lalu dan ditulis oleh Micki Mahendra yang belakangan saya temukan blognya disini. Tokoh sentralnya adalah Vian, seorang sutradara wanita muda. Suatu hari hidup mempertemukannya dengan seorang novelis bernama Medi di bandara yang tengah hiruk pikuk karena berbagai penerbangan yang tertunda gara-gara cuaca buruk. Pertemuan singkat yang cukup intens dan sempat menautkan hati keduanya hingga ke suatu titik dimana mereka merasa ditakdirkan satu sama lain, meskipun pada akhirnya mereka harus kembali ke kehidupan masing-masing. Dalam novel itu mereka digambarkan kembali bertemu dan sempat ‘mencoba’ kembali menyatukan hati yang terpaut di bandara waktu itu. Namun upaya itu gagal, karena magnet dari kehidupan masing-masing rupanya lebih kuat untuk kembali memisahkan keduanya.

Adalah cara Micki menarik ulur kehidupan percintaan kedua tokoh sentral dengan alur maju mundur yang membuat cerita ini menarik. Diawali dari pertemuan keduanya di bandara lalu alurnya maju jauh ke masa depan dimana seorang nenek (hayo tebak siapa) tengah bercerita dengan cucunya, lalu kembali ke masa lalu dan seterusnya. Alur maju mundur yang sebenarnya sederhana sekali. Memang ada kesan di tengah jalan alur ceritanya sempat kedodoran namun Micki sanggup menariknya kembali ke alur cerita semula dan menutupnya dengan cara yang sangat menarik. Sebuah penutupan yang di satu sisi melegakan pembaca yang sudah keburu kepincut dengan kisah cinta Medi dan Vian, namun disisi lain juga terasa menyakitkan karena keduanya sebenarnya tidak bisa dikatakan bertemu. Apa maksudnya, wah.. kalau saya ceritakan disini ya nggak seru dong.

Sayang, buat saya ada sedikit bagian yang cukup mengganggu yakni ketika Vian diceritakan mengembangkan sebuah film yang dilatarbelakangi konsep dunia paralel. Saya sebut menganggu karena ide dunia paralel itu sebetulnya milik Medi yang pernah diceritakan pada Vian ketika mereka tengah bertemu di Bandara. Tidakkah Vian sadar itu? Tidakkah Medi keberatan idenya di ‘comot’ begitu saja bahkan kemudian Medi terlibat membantu produksi film tersebut? Tidakkah penulisnya sadar tentang hal ini? hehe..

Ketertarikan saya pada konsep dunia paralel membuat saya membeli novel ini. Micki melihat konsep ini dari sisi lain yang berbeda dari yang selama ini saya pahami, meskipun saya harus sedikit bersabar untuk menafsirkannya karena ia tidak dikembangkan lebih dalam di novelnya. Mereka yang tertarik pada ide dunia paralel mungkin baru akan menemukan jawabannya beberapa belas lembar menjelang akhir dan mungkin saja langsung bisa menebak bagaimana sang penulis mengakhiri cerita ini. :)

Great piece of work, Mick.. :) Membuat saya makin bertanya-tanya, benarkah dunia paralel itu ada? Apa sih yang tidak mungkin di dunia ini, walaupun bisa jadi ia hanya pembenaran dan tempat pelarian dari mereka-mereka yang belum puas dengan dunianya sekarang sehingga berharap jalan cerita hidupnya di dunia yang paralel akan lebih bagus hehehehehe…

Judul Buku: Dunia Paralel
ISBN: 979-794-026-8
Penulis: Micki Mahendra
Penerbit: MediaKita

ps: Buat yang tertarik, saya pernah menulis tentang Dunia Paralel di blog lama (http://www.geocities.com/ranehafied/c2w/dunia_paralel.htm)yang masih bermukim di geocities. :p





Sunday, March 25, 2007

Baraka


Kemarin, waktu sedang shooting sebuah video profile produk kecantikan, beberapa teman datang menengok. Salah satu teman baikku membawakan DVD berjudul Baraka yang udah lama di rumahnya.
Setelah present offline Sabtu kemaren, capek dengan editing dsb dsb, minggunya aku memutuskan untuk istirahat dulu. Isi jam dengan santai-santai, dan akhirnya malah kembali memutar DVD Baraka.

Masih bergidik seperti kali pertama ngelihat.
Masih kebayang agungnya dunia fana ini, benar-benar a world beyond words. Baraka di banyak bahasa berarti blessing, berkah, barokah, Baraka.
Di film itu benar-benar terlihat kalau manusia itu kecil, sementara alam itu besar dan indah.
Di keindahan alam yang besar itu, manusia kecil seperti menjadi tidak berarti, bahkan di satu scene di film tersebut, kita disamakan dengan anak-anak ayam yang tidak berarti.

Baraka, membuat aku berpikir bahwa dunia yang begitu megah ini saja ternyata hanya bergelar alam fana, alam sementara, alam yang paling bawah -- Setelah nantinya ada barzah dan Akherat, pun sudah sebagus ini. Apalagi berbicara tentang akherat dimana ada dua tempat yaitu surga dan neraka. Dimana sang kematian telah di lepaskan dari jabatannya sehingga yang ada hanyalah kekekalan. Sungguh tak terbayang, bagaimana agungnya tempat-tempat itu.
Dimanakah tempat kita nanti? Semua tergantung Allah, dan semoga kita dibimbing berbuat sesuatu yang benar di dunia fana ini, agar kita dapat merasakan Baraka yang diberikan olehnya. Alhamdullilah, aku pun di titipi Allah, Baraka - anakku, untuk kami jaga dengan cinta.
Semoga Baraka menyertai kita semua. Sehingga kita memiliki akhir yang baik.

Tiba-tiba terlintas di kepalaku, suara hati yang berkata:
"Kehidupan dunia mungkin tentang perjalanan dan proses, namun pada akhirnya, dimana kita berakhir itu yang paling penting. Semoga kita memiliki akhir yang baik."




Saturday, February 10, 2007

Tentang Hijrah


Di suatu shalat Jum'at, Khatib berbicara tentang hijrah.
Mungkin karena waktu itu deket dengan tahun baru Hijriah, tahun ketika Rasullulah Salalahu Alaihi Wassalam hijrah dari Mekah ke Madinah atas perintah Allah.
Khotbah menjadi menarik ketika sang khatib menerapkan hijrah ini tidak hanya pada peristiwa itu, tetapi lebih pada peristiwa sehari-hari yang sering luput dari perhatian kita.
Sebagian dari kita, bilang itu adalah hukum alam, tapi Quraish Shihab dalam salah satu bukunya berbicara bahwa itu adalah hukum Allah, orang saja yang sering menyelewengkannya menjadi hukum alam =) (kecuali kamu penganut sceintology, kamu kemungkinan besar setuju)
Sang khatib bilang," Sudah hukum Allah kalau kita ber hijrah di jalan-Nya, kita akan diberikan kebaikan." Tentu dia berbicara tentang the mother of all hijrah - meninggalkan segala yang buruk menjadi ke yang lebih baik. Tapi ternyata tidak hanya itu, dia memperlihatkan contoh-contoh seperti: Pohon pisang, tunasnya tidak akan tumbuh bagus, kalau tidak di pindah berjauhan dari induknya, bangsa rantau sering lebih sukses daripada pribumi (cina di dunia, padang di jawa, jawa di afrika selatan, Madura di kalimantan dll dll) - bahkan dia bilang, suka gak suka, Amerika, yang notabene (eh, apa sih arti notabene?) bangsa pendatang, diberikan kelebihan oleh Allah, karena mereka adalah orang yang berjalan - berhijrah - pergi dari satu tempat ke tempat yang lain.
Mungkin karena itu, mau gak mau kita harus keluar dari lingkungan kita, berhijrah, ketempat yang lebih baik, keluar dari rumah, keluar dari negara, keluar dari...comfort zone kita.
Asal semua di dalam nama Allah, Insha Allah tidak ada yang lain kecuali kebaikan.
Jadi ingat salah satu cerita, tentang seseorang yang ditanya malaikat Allah karena dalam hidupnya selalu berbuat kemaksiatan karena keadaan (seperti bergelimang riba, zinah, sogok, korup, dll) - orang ini beralasan, keadaan sosial sekitar yang 'memaksanya' berbuat begitu.
Ternyata tidak ada yang memaksa, kok. Karena manusia punya pilihan, karena jawaban dari malaikat Allah itu adalah: "bukankah Allah menciptakan bumi begitu luas?" - tepatnya bagaimana aku lupa, tapi maksudnya adalah: Allah SWT menciptakan bumi begitu luas, jika kita tidak bisa menjalankan perintah Allah di sini, pergilah ke tempat lain, pergi di dalam jalan-Nya, pergi dengan jaminan apabila kita mati, kita berada di jalan-Nya dan dapat ganjaran dari -Nya.
Seperti di perjalanan dunia yang paling akbar buat ummat, yaitu Haji.
Mungkin hijrah juga berarti menjadi mandiri dengan menyadari bahwa tidak ada tempat bergantung selain daripada Allah. Tidak rumah orang tua, tidak pekerjaan kantor, tidak usaha yang kita jalani. - Siapa mau menyeberangi gurun pasir mencari ridho Allah? - mungkin mereka yang akan menemukan.
Mungkin juga kita akan menyadari bahwa Allah membuat burung-burung terbang di pagi hari tanpa membawa bekal apa-apa, namun di sore hari pulang ke sarang dengan perut kenyang. - mereka tidak bawa uang, tidak bawa pekerjaan, mereka hanya berjalan, dan Allah yang memberikan.

Saturday, January 27, 2007

Beginner's luck in motion


Paul Coelho dalam bukunya the alchemist membahas sekelumit tentang ini.
Dimana dalam cerita itu, dia bilang beginner's luck adalah cara semesta alam ini bekerja sama sedemikian rupa, sehingga membuatmu berhasil mewujudkan mimpimu.
Seluruh semesta Alam bekerja sama agar kita dapat merasakan sebuah kesuksesan, sebagai 'hidangan pembuka' yang akan membuat kita lebih semangat lagi melangkah ke depan.
Suatu pemikiran yang menarik.
Sayang ia tidak menyatakan kebenaran.Hanya - setengah kebenaran.
Kalau sebenernya semesta alam dan seisinya hanya menjalankan perintah dari pemilik tunggalnya. Allah.

Tapi terlepas dari itu, aku hanya berpikir, kalau memang ada yang namanya beginner's luck. Maka, akan sangat menggoda kalo kita selalu mempelajari dan melakukan hal yang baru. Dengan begitu, kita akan terus mendulang sukses melalui beginner's luck.
Ada yang mau coba?
Tolong kasih tau kalau pemikiranku ini berhasil terbukti.
-- tulisan ini membuat ku berpikir tentang hijrah. Tapi itu ada di posting selanjutnya. Stay tuned =)

Monday, December 18, 2006

Dunia Paralel di PIM Gramedia


Sayang apabila dilewatkan,
gak nyangka di taruh di sebelahnya Leo Tolstoy's - Anna Karenina
hehehehe
lucu juga para pegawai di gramedia..

Monday, November 27, 2006

Kejebak Batak: Lele asap ala Padang Sidempuan



Sebenarnya kejadian ini bermula gara-gara aku salah masuk restoran.
Pada suatu sore, bosen memakan masakannya Restoran Sederhana, aku masuk ke sebuah restoran ber cat merah di jalan Veteran Bintaro. Tulisannya rumah makan padang sidempuan, gitu.
Turun dari mobil, langsung nyerocos,
"Mas, buatin satu dong, kapau."
Nah, kalo sering ke restoran padang, nasi kapau itu adalah nasi bungkus yang dicampur sama lauk. Mustinya ngerti dong, orang kupikir ini restoran padang.
Eh dia bilang,
"Pake nasi gak?"
Lho?
Ternyata, padang sidempuan itu sama sekali bukan padang. Malah ini adalah masakan medan sebenernya. Jadi malu. Pantesan kok logatnya beda.
Kepalang tengsin, tanya-tanya deh makanan kas Medan alias batak ini. Trus ditunjuklah teri medan, ah jamak, sering...trus ditujuklah sayur singkong cacah, ahhh..sayur, makanan kelinci...trus ditunjuklah lele asap. Nah, ini dia yang menarik. Apa itu lele asap? ya Lele di asepin, trus di kasih kuah kayak kuahnya gule ayam padang. Hmm...menarik, terlebih karena biasanya aku tidak pernah makan sesuatu yang tidak berbentuk asli. Tapi aku masih bisa mengenali buntut lele di masakan ini, jadilah kupesan satu.
Aroma makanan ini, langsung meledak ketika kita memasukan daging lele dan kuahnya ke mulut. Smokeyy...sedap banget.
Kayak apa ya, smoked salmon, bandeng asep? Tau kan rasa-rasa asap itu? Malah daging lelenya tidak terasa seperti pecel lele. Apa ya, lebih keras, kayak daging, tapi ada aroma asapnya. Hmm. Menarik.
Makanan ini merupakan salah satu favoritku sekarang, rasa asap yang membedakan, dan paduan kuah gule yang cukup light, seperti saling melengkapi di mulut. Ditambah nasi panas dan kerupuk warna. Satu lagi pengalaman kuliner yang berharga.

Tuesday, November 21, 2006

Another day Another Dream =)




Kalau kamu ngikutin blog ini dari awal, which I doubt it...
kamu akan tahu kalau impianku adalah buat film, menulis dan menerbitkan novel, dan menjadi chef.
Read: Mau Apa?
Dua yang awal sudah kejadian...meski baru film pendek, dokumenter dan sebuah novel aku sudah bersyukur...
dan kemarin tanggal 18 Nov 2006, satu terkabul..yang terakhir.
Kemarin adalah saat pertama aku dibayar untuk memasak.
Adalah Gevulde kip atau ayam kodok , yang dipesan seorang teman untuk merayakan kepindahannya ke apartemen barunya. Thanks Glenn =)
Meski belum dan jauh dari punya restaurant, sangat terasa enak ketika masakan kita di bayar dan di hargai - meski baru di skala pesanan individual oleh seorang teman baik
=)
felt good.
Semua kukatakan jauh dari kesombongan - semoga, namun penuh rasa syukur..

Monday, November 06, 2006

Control is illusion




Aku pernah baca dan mendengar bahwa kontrol adalah ilusi.
Seberapa akurat pernyataan ini?

Gini, tadi waktu olah raga pagi naik sepeda, banyak banget mobil dan motor ber seliweran di daerah bintaro. Sampe-sampe gak seger lagi, yah tapi lumayan, namanya orang cari keringat...anyway, banyaknya mobil yang buru-buru ngejar setoran hari senin itu, membuat aku berpikir naik sepeda udah gak aman. Kesenggol dikit bisa 'selesai.'

Trus pikiranku melayang ke puluhan tahun lalu, atau belasan kali yee...kayaknya udah tua banget kalo puluhan. Yaitu ke film "Days of Thunder," yang di maeinin Nicole Kidman dan Tom Cruise.
Di sini ada salah satu adegan yang menyatakan, kurang lebih, udah agak lama, sebenernya aku gak yakin ini film itu atau kehidupan nyata ku sendiri ya, agak-agak blurry sih..
nah dia bilang gini: Mankind itu selalu obsess sama kontrol. Padahal kontrol itu ilusi. Kita bisa aja melakukan persiapan yang matang untuk segala hal, tapi tetep aja hasilnya beda. Contoh, meski kita ngecek mobil kita, rem, mesin dll, tetep aja kalo emang harus tabrakan ya tabrakan..jadi kontrol itu 'Nothing." So, why bother.
(Kayaknya emang film deh, kecuali ternyata kalau aku kenal sama Nicole Kidman)

Mungkin pernyataan di atas perlu di lengkapi lagi...kontrol memang ilusi, kepada hal-hal eksternal seperti tadi...(ketabrak mobil, kesambar ikan terbang, ketabrak tawon dll) tapi untuk perasaan dan nafsu, kayaknya harus bisa deh...ok, kita akan gagal berkali-kali, tapi yang diitung mungkin bukan keberhasilan, tapi usaha..bener gak? tau deh..gue sih mikirnya kayak gitu, kalo usahanya udah bener juga Insha Allah di benerin...

So, i really do believe control about external thing is impossible, it's only an Illusion...bahkan mungkin internal control is no different...kan ada yang Maha Membalikan Hati.
Harap-harap cemas aja takdir kita baik, dan bersyukur...
ya bersyukur, jangan gak tau diri, mentang-mentang segalanya udah di atur..
=)
Peace yo!

Friday, October 06, 2006

"One for all"

Beberapa waktu yang lalu, aku mengalami makan malam yang 'tak biasa.' Makan malam ber jama'ah. Alias sepiring rame-rame.
Kalau kita lihat sepintas, kayaknya kok jorok ya. Tapi disini kita malah belajar yang namanya Adab.


Kenapa bisa begitu?
Karena, ketika kita duduk bersama-sama teman dan menikmati hidangan, timbul perasaan tidak enak kalau tangan kita kotor, tidak enak kalau tangan kita jorok, tidak enak kalau kita cara makannya berlebihan.
Sebagai bonus, lucunya, makanan tidak pernah terasa kurang apabila dimakan dengan cara seperti ini.
Pengalamanku ini gak jadi hal yang menyedihkan seperti lagu dangdut jaman dulu. Sepiring berdua =).
Bahkan sehabis pengalaman ini, aku melihat makan ber jama'ah ini adalah suatu pengalaman yang indah. Dimana adab orang dapat disempurnakan. Dimana kelakuan seseorang harus memperhitungkan kepentingan dan kesopanan terhadap orang lainnya.
Dimana seseorang harus memilih, dimana dia akan duduk. Are you amongst the one that you trust&love? or not?! (Bukan kaya atau miskin, ganteng atau jelek, tapi percaya atau tidak)

Monday, August 28, 2006

Dunia Paralel = Steak Mushroom Sauce

Oleh: Mira Tulaar, Radio Host - HardRock FM Powder Room






Baca "Dunia Paralel' kayak nonton film. Gaya berceritanya deskriptif banget, sampe warna cahaya lampu aja digambarin..

Persamaan masakan Micki sama 'Dunia Paralel' adalah : sama-sama enak dinikmatin hehehe..

Thanks for the book and the delicious steak with mushroom sauce, Mick. Tunggu review bukunya di Powder Room ya!

P.S: true love doesn't have a happy ending, because true love doesn't have an ending! :)

Thursday, August 03, 2006

Dunia Paralel: Success to brought emotion and bring readers to feel it

Oleh: Merissa Santoz, Creative, Wunderman ID


Alurnya yang gw suka.. nggak basi bacanya..
eventhough belakangannya agak cepet ketebak ending nya..tapi u success to brought the emotion..
the story itself juga very simple, banyak kita temuin di sekitar.. which is menurut gw elo hebat aja bisa ngangkat cerita yang mungkin udah biasa kita denger di telinga tapi kadang nggak kepikiran kalo sampe kita yang ngalamin kayak gitu gimana...
and u bring the readers to feel it..
tapi yang dasyat JUDULNYA dooongg!!!!!
pertama kali gw pikir nih buku SCIENCE FICTION.... and it turn out to be one hell of LOVE STORY!!!!! nice mik...
lu tipu orang orang kimia-fisika yang kacamataan, buat mau ngebaca gituan...(daripada baca rumus mulu!!!!)

Dunia Paralel: Nice one!


Oleh:
Keke Husain, Copywriter DDB Brainstorm


Setau gue, buku yang bagus adalah buku yang bisa ngegambarin sebagian besar isi buku dari judulnya. Gue rasa, Micki Mahendra udah dapet point positif di sini. Judul yang dipilih cukup ngundang keingintahuan buat ‘mengarungi’ isinya.


Slice of life banget sih ceritanya, dimana ada seorang cewe, Vian, secara engga’ sengaja ‘terdampar’ di airport dengan Medi, cowo’ yang dengan instant mencuri hatinya. Mereka berdua sama-sama tertarik sama yang namanya Dunia Paralel, dunia dimana ceritanya laen banget sama cerita di dunia ini. Yang satu tertarik buat difilemin, yang satu mau dibukuin. Sampe pada akhirnya mereka ketemu lagi di waktu yang lain dan masih dengan mimpi yang sama, hidup bersama di Dunia Paralel. Menarik.

Bercerita tentang kehidupan sehari-hari bakal kerasa basi kalo aja yang nyeritainnya ga’ punya sisi pandang yang laen. Sekali lagi, Micki Mahendra memiliki point plus. Caranya bercerita, dengan alur maju mundur, tidak membuat pembaca mati kebosenan. Cerita menuju klimaks berjalan lambat tapi pasti, sayang, akhir cerita terlalu dibuat buru-buru dan membuat pembaca semakin mudah menebak akhir cerita.

Dan satu lagi... Cerita tentang minuman ini dan itu berserakan di buku ini. Kalau jeli, ada sekitar 15 macam minuman berbeda loh di sini. Coba itung!

Intinya sih, dalam hidup itu ga’ bakal ada ‘Control Z’, there’s no turning back. Jadi, jangan pernah takut ambil resiko se-rebel apapun itu demi ngikutin kata hati.

Nice book, Mick!

K e K e W r i T e R

http://piecesofmosaic.blogspot.com

Wednesday, June 28, 2006

Dunia Paralel : sebuah mimpi kehidupan linier asimetrik






Oleh: Nurman Priatna
Copywriter Ogilvy & Mathers, Moderator Bunga Matahari, Poet


Micki Mahendra, sahabat saya sesama pemimpi dan penulis, meluncurkan novel pertamanya "Dunia Paralel". Salut, adalah hal yang pertama saya sampaikan, akhirnya pecah juga telur karirnya di bidang sastra.

Lalu apa? Awalnya, saya hanya ingin jadi penikmat kata-kata belaka. Tapi karena diminta secara pribadi, terlebih karena buku untuk saya adalah novel pertama yang Micki tandatangani, jadilah saya belajar untuk mengulas buku untuk yang pertama kali.

Tema yang diangkat Micki sebenarnya sangat sederhana; tentang cinta. Dalam novel ini, cinta yang dikisahkan adalah cinta yang terbatas ruang dan waktu.

Tokoh utama, Vian, sutradara wanita muda yang sedang menggarap film cerita pertamanya. Suatu hari ia terjebak di bandara karena penerbangannya ditunda. Saat itu hidupnya bertabrakan dengan Medi, seorang penulis novel yang juga tertunda keberangkatannya. Pertemuan hari itu berkesan, namun mereka berpisah menuju tujuan masing-masing. Tahun berikutnya mereka bertemu lagi dan baru lah cerita cinta mereka bergulir.

Konsep "Dunia Paralel" adalah pemikiran yang ditawarkan novel ini. Miris ketika akhirnya kedua kreator film tersebut adalah mereka yang mencoba percaya bahwa di dunia paralel itu, cinta mereka bisa kesampaian. Sayangnya konsep yang menarik ini tidak benar-benar digarap sebagai sentral cerita.

Cara bertutur Micki yang menggunakan alur mundur-maju rasanya cukup baik, cukup sederhana dan tidak mengganggu jalannya cerita. Pilihan kata-kata yang ringan sepertinya cukup efektif, tak terlalu banyak bunga-bunga namun tetap puitis di banyak bagian. Dinamika penulisan cukup asyik, karena cara Micki membuka satu kejutan ke kejutan lainnya terasa cukup halus tapi tetap menggigit, terutama menjelang akhir.

Struktur logika novel ini rasanya cukup baik, namun saya mempertanyakan sedikit mengenai ide “Dunia Paralel” yang sebenarnya milik Medi, sebagaimana diceritakannya kepada Vian di awal cerita. Tapi setahun kemudian justru Vian yang menggarap film bertema tersebut, dan Medi bersedia membantu pengembangan naskahnya tanpa merasa keberatan. Kalo saya sih, mungkin sudah merasa kecolongan secara intelektual. Boro-boro membantu, malah bisa-bisa saya tuntut si Vian itu. Hehehe.

Sebagai novel pertama, saya rasa Micki bisa tampil dengan gaya penulisannya sendiri. Kalem dan santun, seperti orangnya. Sejauh ini kesan akhir yang saya dapatkan dari novel ini, masih terasa “aman”. Tapi saya yakin masih banyak kejutan yang ia simpan di dalam kepala dan komputernya. Mungkin ia simpan untuk novel-novel berikutnya.
Selamat sekali lagi Mick, membacanya saya merasa bangga sekaligus terhibur. :)

Salam,
Nurman

Thursday, June 08, 2006

Dunia Paralel




Alhamdullilah akhirnya novel ini terbit pada bulan Juni 2006.

Sebuah cerita tentang cinta dan pilihan. Cinta di waktu dan tempat yang keliru. Tetapi ada dunia lain, waktu dan tempat lain untuk membenarkan yang keliru.


Terima kasih untuk semua yang telah mengisi gudang ingatanku, sehingga buku ini bisa jadi seperti apa yang tercetak sekarang ini.
Terima kasih

Tuesday, May 16, 2006

Simfoni Bulan: Review


Di dalam setiap cerita, pasti ada sesuatu yang ‘stole the show.’ Yang artinya, sesuatu yang menarik simpati dan membuat audiens membicarakannya padahal dia bukan tokoh utama. Sesuatu dengan karakter, sesuatu dengan letupan dan percikan api dahsyat. Yang dapat menghidupkan api imaginasi dan kreasi di hati. Itulah yang kudapat dalam Novel perdana Feby Indirani ini: Simfoni Bulan. Melalui karakter Visya.

Setiap hendak memulai cerita baru, atau menulis apa pun juga, selalu terbersit pikiran, mampukah aku melahirkan karakter seperti itu? Akh mungkin gaya ku beda. Jangan sama kan aku dengan Feby. Dan kemudian terbersit lagi, apakah itu hanya justifikasi saja? Aku menyukai buku Simfoni Bulan bukan hanya karena Visya. Tetapi karena…apa?

Plot. Ditata sedemikian rupa sehingga aku bisa terbawa di dalamnya. Tentu, meski hanya perlu 3 jam aku menyelesaikannya. Tapi itu dosis yang tepat untuk terbuai didalamnya. Semua bermulai dari kalimat ini:

Siapa yang berani mengatakan menjadi pelacur itu mudah?
Kemarilah. Aku ingin sekali meludahinya. Sekarang. Saat ini juga. (Aku tersenyum ketika membaca ini. Mau jadi Ayu Utami?)

Ini adalah cerita tentang seorang wartawan, yang keluar dari tempat kerjanya untuk menyelesaikan novel. Namun ia kekurangan impuls kreatif, novelnya tak kunjung selesai tertulis.

Kemudian cerita terus mengalir, kembali ke kejadian sebelumnya, saat Bulan, sang tokoh utama, memutuskan untuk menjadi pelacur, demi sebuah proses penulisan novel dengan metode mengalami. Kemudian diceritakan juga bagaimana Bulan bertemu Visya, sang novelis fenomenal dengan 'sedikit aliran darah setan ditubuhnya'. (Istilah ini hanya rekaanku saja, merujuk ke sisi gelapnya karakter ini.) Disinilah terjadi point of no return, di mana Bulan ‘diajarkan’ untuk melakukan proses mengalami sehingga bisa menghasilkan tulisan yang bagus. Tidak berpura-pura jadi, tetapi benar-benar menjadi. (Nice one, Feb.)

Tengah-tengah buku, aku merasa Feby lebih baik dari Ayu Utami. Tapi itu adalah pandangan pribadiku. Orang boleh tidak setuju. Terus terang aku takut dengan kevulgaran kalimat-kalimat Ayu Utami, meski aku mengakui buku beliau adalah fenomenal, termasuk buku pertama yang membuatku melirik sastra Indonesia.

Tetapi aku menemukan dosis yang pas buatku di buku Feby. Dosis campuran antara kegelapan dan pencerahan. Tentang kehidupan para pelacur, kehidupan para penulis, perjalanan plot dari kegelapan Kramat Tunggak ke penyucian di Varanasi, India.

Tak usah terlalu berpikir, baca saja buku ini, biarkan dirimu terbawa dengan plot yang dirancang dengan bagus dan dibawakan oleh karakter-karakter yang kuat.

Dan ketemu aku di ujung sana. Kita akan bicara lagi. Setelah titik terakhir di kalimat Febi mampir di matamu. Kita akan bicara lagi mengenai novel ini.

Simfoni Bulan;
Penulis: Feby Indirani;
Penerbit: Media Kita;
Editor: A.S Laksana


Thursday, May 11, 2006

Sup Betawi Berkah



Suatu saat seorang teman mengajak makan di sebuah warung kecil bertulisan "Berkah."
Tempatnya biasa-biasa aja, seperti warung makan pada umumnya. Bahkan kalau gak diajak teman, aku nggak mungkin tahu ada warung makan itu di muka bumi ini. Terletak di pinggir tol simatupang, ke jalan kampung yang tembus ke kuburan jeruk purut.
Di meja telah ditaruh banyak cemil-cemilan, pelengkap makanan utama seperti emping yang gedenya sepiring, tahu, tempe, kerupuk dan lain-lain.
Mata pasti ngelihat yang emping segede piring dong...
Makannya gimana ya?
ternyata berdasarkan contekan dari meja sebelah, emping yang gede ini diremek bersama plastiknya sehingga ketika kita buka jadi emping kecil-kecil...woww...nice...
Trus untuk makanan utamanya...sup daging berkah.
Cuma ada dua menu, gede atau kecil.
Ketika datang, sup bening kemerahan ini diisi dengan tulang-tulang berbalut daging yang berenang-renang di antara daun bawang. Ok...kayaknya cukup layak di coba.
Terus, seruput kuahnya.
Gurihnya minta ampun. Mungkin karena memang seluruh daging ini direbus lama dengan tulang dan sum-sum kali ya...tambah sambel sedikit. Sempurna.
Ok, aku belum mau menyentuh dagingnya...dandanin nasi dulu kali ya...sedikit kecap di atas nasi, sedikit jeruk nipis di kuah sup. Baru aku lanjut ke dagingnya.
Dengan sendok, aku mengambil dagingnya dari rekatan tulang besar itu. Wahh...gampang banget lepasnya..hmm..menarik.
Terus, masukin daging itu kemulut, ...aku takjub dengan daging se-empuk ini.
Karena empuk, di antara serat-serat daging, resapan kaldu sapinya terasa sekali. Belum lagi sum-sum yang masih tampak di tulang menambah kenikmatan.
Kenikmatan yang membedakan sup daging berkah ini dengan sup-sup daging lainnya.
Kenikmatan yang bisa membuatku kangen dengan masakan ini.

Saturday, April 01, 2006

Saus Padang yang paling pas


Mungkin kalau aku akan dikirim ke Mars dengan pesawat antariksa yang belum pernah teruji, dan aku mendapat kesempatan untuk memilih makanan - makanan terakhir. Menu ini pasti ada.
Kerang hijau saus padangnya santai malam alias 1001 malam di kelapa gading.

Kerang hijau paling dashyat.
Ledakan rasa di lidah.
Bayangin ya...saus padang yang pedesnya pas, dan kerang hijau segar, yang entah bagaimana, dimasak sangat 'crispy,' tapi tidak terlepas dari kulit kerang hijaunya.
Jadi, baluran pedasnya saus padang yang menyelimuti kerang garing ini, pas banget masuk ke mulut dengan nasi hangat. Kalau kamu berani, seruput sausnya dari kulit kerang. Dijamin lebih dari satu nasinya.
Terus, pas pedes-pedesnya, diobatin sama es kelapa muda. Wow...kayak abis dari africa ke islandia. Segar sekali.
Mungkin kerang ini garing karena diolesi sedikit telur kali ya, gak tau deh, kalau ada yang tau cara bikin kerang hijau saus padang yang crispy gini, ajarin dong.

Selain kerang saus padangnya, kepiting saus padangnya juga gak kalah fenomenal.
Tapi menurutku, signature dish tempat ini adalah kerang garing saus padang.
benar-benar tak terlupakan.

Perang lawan diri sendiri

Hanya aku dan lapangan rumput.
Ditemani begitu banyak bola kecil.Dan mulailah perang melawan diriku sendiri.

Gak menang.

Lebih baik bersahabat dengan diriku sendiri.