
Semoga Dunia Paralel juga bisa dinikmati tuna netra.
Please check http://www.mitranetra.or.id/ebook/index.asp?mnu=3
ada keterangan bagaimana memperolehnya disana.
Tersedia 1000 buku untuk tuna netra
Hanya berisi pikiran-pikiran yang pasti akan mati diterpa zaman. Meski tergoda untuk menuliskannya sebagai 'immortal thoughts', kita tahu semua akan mati dan berakhir. Jadi jujur saja. Ini hanya tulisan yang akan mati nantinya.

Ide tentang dunia paralel selalu menarik perhatian saya, terutama sejak saya menonton film Sliding Doors (1998) yang dibintangi si cakep Gwyneth Paltrow. Karena itulah ketika saya menemukan buku berjudul sama di Gramedia Jogjakarta dalam kesempatan tugas ke sana awal Maret lalu, saya langsung saja menyambarnya dari rak tanpa pikir panjang lagi.
Dunia Paralel sebetulnya bukan buku baru. Dia terbit tahun 2006 lalu dan ditulis oleh Micki Mahendra yang belakangan saya temukan blognya disini. Tokoh sentralnya adalah Vian, seorang sutradara wanita muda. Suatu hari hidup mempertemukannya dengan seorang novelis bernama Medi di bandara yang tengah hiruk pikuk karena berbagai penerbangan yang tertunda gara-gara cuaca buruk. Pertemuan singkat yang cukup intens dan sempat menautkan hati keduanya hingga ke suatu titik dimana mereka merasa ditakdirkan satu sama lain, meskipun pada akhirnya mereka harus kembali ke kehidupan masing-masing. Dalam novel itu mereka digambarkan kembali bertemu dan sempat ‘mencoba’ kembali menyatukan hati yang terpaut di bandara waktu itu. Namun upaya itu gagal, karena magnet dari kehidupan masing-masing rupanya lebih kuat untuk kembali memisahkan keduanya.
Adalah cara Micki menarik ulur kehidupan percintaan kedua tokoh sentral dengan alur maju mundur yang membuat cerita ini menarik. Diawali dari pertemuan keduanya di bandara lalu alurnya maju jauh ke masa depan dimana seorang nenek (hayo tebak siapa) tengah bercerita dengan cucunya, lalu kembali ke masa lalu dan seterusnya. Alur maju mundur yang sebenarnya sederhana sekali. Memang ada kesan di tengah jalan alur ceritanya sempat kedodoran namun Micki sanggup menariknya kembali ke alur cerita semula dan menutupnya dengan cara yang sangat menarik. Sebuah penutupan yang di satu sisi melegakan pembaca yang sudah keburu kepincut dengan kisah cinta Medi dan Vian, namun disisi lain juga terasa menyakitkan karena keduanya sebenarnya tidak bisa dikatakan bertemu. Apa maksudnya, wah.. kalau saya ceritakan disini ya nggak seru dong.
Sayang, buat saya ada sedikit bagian yang cukup mengganggu yakni ketika Vian diceritakan mengembangkan sebuah film yang dilatarbelakangi konsep dunia paralel. Saya sebut menganggu karena ide dunia paralel itu sebetulnya milik Medi yang pernah diceritakan pada Vian ketika mereka tengah bertemu di Bandara. Tidakkah Vian sadar itu? Tidakkah Medi keberatan idenya di ‘comot’ begitu saja bahkan kemudian Medi terlibat membantu produksi film tersebut? Tidakkah penulisnya sadar tentang hal ini? hehe..
Ketertarikan saya pada konsep dunia paralel membuat saya membeli novel ini. Micki melihat konsep ini dari sisi lain yang berbeda dari yang selama ini saya pahami, meskipun saya harus sedikit bersabar untuk menafsirkannya karena ia tidak dikembangkan lebih dalam di novelnya. Mereka yang tertarik pada ide dunia paralel mungkin baru akan menemukan jawabannya beberapa belas lembar menjelang akhir dan mungkin saja langsung bisa menebak bagaimana sang penulis mengakhiri cerita ini.
Great piece of work, Mick.. Membuat saya makin bertanya-tanya, benarkah dunia paralel itu ada? Apa sih yang tidak mungkin di dunia ini, walaupun bisa jadi ia hanya pembenaran dan tempat pelarian dari mereka-mereka yang belum puas dengan dunianya sekarang sehingga berharap jalan cerita hidupnya di dunia yang paralel akan lebih bagus hehehehehe…
Judul Buku: Dunia Paralel
ISBN: 979-794-026-8
Penulis: Micki Mahendra
Penerbit: MediaKita
ps: Buat yang tertarik, saya pernah menulis tentang Dunia Paralel di blog lama (http://www.geocities.com/ranehafied/c2w/dunia_paralel.htm)yang masih bermukim di geocities. :p





Kalau kita lihat sepintas, kayaknya kok jorok ya. Tapi disini kita malah belajar yang namanya Adab.

Oleh: Mira Tulaar, Radio Host - HardRock FM Powder Room
Oleh: Merissa Santoz, Creative, Wunderman ID


Sebuah cerita tentang cinta dan pilihan. Cinta di waktu dan tempat yang keliru. Tetapi ada dunia lain, waktu dan tempat lain untuk membenarkan yang keliru.

Di dalam setiap cerita, pasti ada sesuatu yang ‘stole the show.’ Yang artinya, sesuatu yang menarik simpati dan membuat audiens membicarakannya padahal dia bukan tokoh utama. Sesuatu dengan karakter, sesuatu dengan letupan dan percikan api dahsyat. Yang dapat menghidupkan api imaginasi dan kreasi di hati. Itulah yang kudapat dalam Novel perdana Feby Indirani ini: Simfoni Bulan. Melalui karakter Visya.
Setiap hendak memulai cerita baru, atau menulis apa pun juga, selalu terbersit pikiran, mampukah aku melahirkan karakter seperti itu? Akh mungkin
Plot. Ditata sedemikian rupa sehingga aku bisa terbawa di dalamnya. Tentu, meski hanya perlu 3 jam aku menyelesaikannya. Tapi itu dosis yang tepat untuk terbuai didalamnya. Semua bermulai dari kalimat ini:
Siapa yang berani mengatakan menjadi pelacur itu mudah?
Kemarilah. Aku ingin sekali meludahinya. Sekarang. Saat ini juga. (Aku tersenyum ketika membaca ini. Mau jadi Ayu Utami?)
Ini adalah cerita tentang seorang wartawan, yang keluar dari tempat kerjanya untuk menyelesaikan novel. Namun ia kekurangan impuls kreatif, novelnya tak kunjung selesai tertulis.
Kemudian cerita terus mengalir, kembali ke kejadian sebelumnya, saat Bulan, sang tokoh utama, memutuskan untuk menjadi pelacur, demi sebuah proses penulisan novel dengan metode mengalami. Kemudian diceritakan juga bagaimana Bulan bertemu Visya, sang novelis fenomenal dengan 'sedikit aliran darah setan ditubuhnya'. (Istilah ini hanya rekaanku saja, merujuk ke sisi gelapnya karakter ini.) Disinilah terjadi point of no return, di mana Bulan ‘diajarkan’ untuk melakukan proses mengalami sehingga bisa menghasilkan tulisan yang bagus. Tidak berpura-pura jadi, tetapi benar-benar menjadi. (Nice one, Feb.)
Tengah-tengah buku, aku merasa Feby lebih baik dari Ayu Utami. Tapi itu adalah pandangan pribadiku. Orang boleh tidak setuju. Terus terang aku takut dengan kevulgaran kalimat-kalimat Ayu Utami, meski aku mengakui buku beliau adalah fenomenal, termasuk buku pertama yang membuatku melirik sastra
Tetapi aku menemukan dosis yang pas buatku di buku Feby. Dosis campuran antara kegelapan dan pencerahan. Tentang kehidupan para pelacur, kehidupan para penulis, perjalanan plot dari kegelapan Kramat Tunggak ke penyucian di
Tak usah terlalu berpikir, baca saja buku ini, biarkan dirimu terbawa dengan plot yang dirancang dengan bagus dan dibawakan oleh karakter-karakter yang kuat.
Dan ketemu aku di ujung
Simfoni Bulan;
Penulis: Feby Indirani;
Penerbit: Media Kita;
Editor: A.S Laksana

Ketika datang, sup bening kemerahan ini diisi dengan tulang-tulang berbalut daging yang berenang-renang di antara daun bawang. Ok...kayaknya cukup layak di coba.