Wednesday, January 07, 2009

All bikers are brothers...


Suatu saat, my vintage bike mogok...
there's nothing wrong with it...it only lacking of small element that needed to run it.
A small thing that called...Gasoline...huuu
iya, mogok karena kehabisan bensin...silly me...

Itu terjadi di jalan kecil...menuju bintaro...
gak ada pom bensin di sekitar situ...
bahkan gak ada bensin eceran yang biasanya dijual di dalam botol bening bekas vodka atau coca cola...
to make things worse...aku harus ngedorong motor yang lumayan berat itu melewati trowongan...trus tanjakan 45 derajat...
sepanjang kira2 50 meter...dan habis itu juga pom bensin masih setengah kilo

ya udah...doronglah tuh...
pas kira-kira udah ampir sampai tanjakan, another vintage bike pull over.

"Mogok mas?" katanya. Ya iyalah mogok, masa gue iseng, kataku dalam hati.
Trus dia bantuin dorong dengan cara menginjakkan kakinya ke rubber step motorku...trus dia nganterin dengan cara itu sampai pom bensin. Pas nyampe, di muter...
"Ok, mas, udah safe ya sekarang...", kurang lebih gitu katanya...
"Makasih, ya," kataku
Trus dia senyum dan melanjutkan perjalanannya...
I never get a good look of my helper that night...karena dia selalu dibelakang, mendorong motorku...but I'm glad for his help.

Indeed, we are brothers in some way...

meski sering pas naik mobil marah sama orang-orang yang naik motor yang 'gak sopan' ridingnya...meski sering memandang mereka sebagai 'nyamuk' penganggu jalanan...
but some people just nice...
helpful...
and i'm thankful.


Monday, November 24, 2008

Kaca


Kapan kita ngaca?

Tiap pagi? tiap abis mandi, atau bahkan tiap kali kita jalan di mall...ada pantulan kaca, kita ngaca? (gue banget nih...)
tapi apa refleksi yang kita lihat di kaca itu bener-bener kita?
atau...cuma presepsi yang ditentukan berdasarkan pengalaman bahwa itu adalah kita?
The question is,...do you really know yourself?
Who is me?
is that really me?
pada akhirnya kita hanya pantulan sinar yang terefleksi di material yang disebut kaca. Itu yang kita percaya?


Thursday, September 18, 2008

Dunia Paralel Review, by Feby Indirani (writer of Simfoni Bulan)



Novel ini sampai di pangkuan saya tepat saat saya sedang memimpikan hal yang sama, Bahwa di luar dunia yang kita kenal saat ini ada dunia lain yang mengantarkan sepaket takdir yang berbeda. Bahwa di suatu tempat di luar sana, ada diri kita yang lain, yang tidak terpenjara tangan-tangan takdir yang sesungguhnya hanyalah konsekuensi dari pilihan-pilihan masa lalu kita. Cara berpikir khas para pemimpi, jika kita tak bicara dari probabilitasnya dalam sudut pandang fisika.

Dari ketakberdayaan itulah cerita Dunia Paralel beranjak. Vian seorang pembuat film dan Medy seorang penulis bertemu di bandara saat pesawat mereka sama-sama delay. Pertemuan singkat itu ternyata menggetarkan hati mereka, padahal mereka masing-masing sudah terpaut janji dengan orang lain. Keluasan imaginasi mereka sebagai pekerja seni membawa mereka mengkhayalkan dunia paralel, bahwa ada Vian dan Medy di dunia yang lain dalam kondisi yang memungkinkan segala sesuatunya bagi cinta mereka. Medy sesungguhnya yang pertama kali memiliki ketertarikan menulis novel tentang dunia parallel. Vian kemudian sepertinya tanpa disadari juga terobsesi untuk membuat film bertema sama setelah bertemu dengan Medy. Bisa jadi ini merupakan katarsis dari tak kuasanya ia mewujudkan asa dalam hidup yang sesungguhnya.

Cinta dan ketakberdayaan yang bersimpuh di hadapan keperkasaan takdir adalah mata air inspirasi yang tak pernah kering. Micki Mahendra berangkat dari titik itu. Ia melalui tokoh-tokohnya mempertanyakan kemungkinan dunia paralel itu betul-betul terjadi saat kenyataan terasa mencekik leher dengan segala keterbatasannya.

Sayangnya, pertanyaan tinggal pertanyaan yang tak pernah dieksplorasi lebih jauh. Dunia paralel kemudian memang hanya khayalan. Tadinya saya berharap bahwa Micki punya keberanian memadukan cerita cinta yang manis pahit ini dengan sudut pandang fisika yang mengeksplorasi berbagai kemungkinan. Tapi tidak, itu lagi-lagi hanyalah khayalan kosong para pemimpi.

Cinta terjalin antara Vian dan Medy dalam pertemuan yang singkat. Hal seperti ini umum terjadi dan selalu sulit dijelaskan. Ada kecocokan chemistry antara keduanya. Ada energi magic yang terjadi, semua lelaki dan perempuan dewasa yang pernah jatuh cinta pasti paham maksud saya. Tapi percakapan-percapakan yang terjadi di antara mereka justru terasa sangat pemukaan

Bisa jadi seharusnya inilah kelebihan novel. Micki mungkin bisa menceritakan apa yang dialami tokoh-tokohnya, aura keakraban yang tercipta dengan cepat di antara mereka. Micki sebetulnya punya kapasitas ini. Terlihat misalnya dari bagaimana ia bisa menceritakan kondisi bandara secara terperinci. Sebetulnya, gejolak perasaan tokoh-tokohnya bisa dieksplorasi lebih banyak lagi.

Beberapa tahun kemudian mereka berjumpa lagi ketika Vian tengah menyelesaikan scriptnya untuk film dunia paralel dan ia membutuhkan penulis pembantu. Rekannya, Aleta membawa Medy yang pernah menulis novel dengan tema serupa kepadanya. Seolah tangan takdir melemparkan mereka bertemu lagi.

Percikan api itu kembali menyala. Di sinilah sebetulnya peluang Micki untuk mengeksplorasi relasi Vian dan Medy lebih dalam. Apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pikirkan apalagi setelah mereka tiba-tiba bertemu kembali, apa sih sebetulnya yang terjadi dengan relasi mereka masing-masing? Apakah ada persoalan sehingga mereka merasa tak terpuaskan? Atau segala sesuatu berjalan terlalu mulus, sehingga mereka justru merindukan tantangan baru?

Sebagai pembaca, saya menunggu konflik yang cukup serius. Saya ingin dibuat yakin bahwa bangunan emosi di antara mereka berdua sungguh kuat sehingga kondisi itu memang dilematis, bukan sekedar riak kecil karena ketertarikan yang bersifat fisikal. Sayangnya, pengisahan relasi Vian dan Medy pun lagi-lagi terasa sangat di permukaan. Di antara mereka bahkan bisa dibilang tak ada percakapan yang cukup dalam, tak ada peristiwa yang cukup menggetarkan yang bisa membuat pembaca yakin bahwa cinta mereka bisa bertahan sampai akhir zaman. Meskipun saya mesti mengakui bahwa percakapan antara mereka berdua di malam terakhir itu memang bikin terharu, huhuhu. Dan sebagai orang yang pernah berada pada kondisi serupa, saya betul-betul bisa membayangkan apa yang mereka rasakan.

Selain itu, dunia paralel kemudian hanya jadi serupa tempelan dalam novel ini. Ia muncul sebagai wacana yang diungkapkan Medy kepada Vian tentang teori dunia paralel dari Max Tegmark. Dan itu sebetulnya bisa jadi jauh lebih menarik jika turunan teorinya betul-betul dileburkan dalam konteks relasi Medy dan Vian. Saya pun jadi mengkhayalkan, andai dalam buku ini pun ada beberapa skenario yang bisa terjadi di antara mereka. Ada Medy dan Vian yang melakukan pilihan-pilihan yang sama sekali berbeda dengan yang terjadi di akhir cerita (nggak mau nyebut ya, nanti spoiler hehehe). Bisa saja ada beberapa skenario yang dimunculkan. Dan pembaca bisa dibuat terkecoh beberapa kali karena tidak tahu skenario manakah yang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata Medy dan Vian.

Cerita ini sesungguhnya masih amat potensial untuk digarap dan dikembangkan lebih jauh. Dan saya melihat Micki memiliki kapasitas sebagai pencerita yang baik, sweet tanpa harus jadi mendayu-dayu dan telaten pada deskripsi. Saya merasakan ia memiliki bakat lebih dari pada yang sudah ditunjukkannya, kalau saja ia (dan tokoh-tokohnya) bisa lebih berani berkhayal, tanpa malu-malu.

Akhir kata, Ayo Micki nulis lebih banyak lagi yaaaa...


Micki: Thx Feb, I will write again.



My Finest Hours



These last few months were not my best months...

Ramadhan ini biasanya sering membuat kita melihat refleksi diri dengan lebih bening.
*betul gak tuh? kalo lebih bening bukannya refleksinya makin gak keliatan? lebih mantul kali ya, yang bener.....huaahh eniwey...
kerjaan lagi lesu, kreatifitas? lagi standar-standar aja...stress level? naik pelan-pelan..
uang? menipis pelan-pelan...huuu...
Kalo udah begini, biasanya aku ke supermarket, belanja bahan makanan, dan masak. Yeah...it's my comfort zone...

Doing groceries and cooking, ask my friend, they tell you the same th
ing.
Sementara masak, preparing food...aku sering berpikir, kenapa ya...why..? why its not as good as it used to be? why don't I have more money? (aku emang kalo berpikir biasanya pake bahasa ainglaish, meski ngaco)...sampe lama-lama pikiran negatif itu ilang dalam masakan..., setelah makan, hopefully positive thoughts will take over. Mungkin gak ya kali ini?
mmm..susah...tapi tunggu..
tahun ini aku membaca 3 buku dari Haruki Murakami yang membuatku semangat menulis lagi...aku dan teman-teman SMA ku kembali bikin band (the Most Untalented Band I ever known =))...tahun ini istriku insha Allah hamil anak ke dua...Baraka udah makin lucu dan belagu ajaa...
hey...I'm actually happy, it turns out to be my finest hours...

karena salah satu doa adalah meminta Allah untuk tidak menjadikan kami orang yang merugi, yaitu orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Tidak hanya urusan uang...urusan makan...tapi semua urusan dijadikan satu.

seorang bijak pernah berkata,"kumpulkan segala kegalauanmu, dan kembalikan pada yang punya",(Yes...He means gave it all back to Allah)

Jadi, I think my finest hours is yet to come. Look forward for it

yang maha esa
yang maha mebolak-balikkan hati
yang maha kaya
yang maha pemurah
yang maha...kuasa.

Friday, May 30, 2008

Every step we make is moved by Allah's will

Dulu, tahun 2006 pernah menulis tentang control is ilusion
Sekarang, semakin tebal keyakinannya.

Siapa yang jagain Baraka?
- Biar gimana pun dijagain, digigit nyamuk juga kalo tidur...
Siapa yang jagain rumah ?
- Mau diapain juga pernah kemalingan ...dua kali lagi
Siapa yang jagain harta ?
- Mau di timbun kepake juga...(nimbun gak boleh juga sih...)
Siapa yang jagain pekerjaan ?
- Mau dicari sampe mampus kalo belum dateng ya belum adaa...

Ternyata, aku tidak usah kuatir. =)
Rejeki sudah ada yang ngatur, dan tidak satupun luput dari perhatiannya. Bahkan, daun pun jika ingin jatuh ke tanah pasti atas izin-Nya.
Manusia porsinya berusaha, bukan ngatur. Jadi aku tidak berusaha mengatur apa-apa. Aku hanya mengerjakan apa yang perlu kulakukan.
Aku bosan mendengar orang berkotbah tentang persiapan, jaminan, asuransi, lebih baik active dari pada reactive, lebih baik a dari b, lebih baik c dari d dst dst....

Cukup ALLAH wakilku...Hasbunallah Wa nimal Wakil.
Dia yang maha Mencukupkan.
Walk on son...don't be afraid.
And for all of us...learn from it.









Tuesday, February 05, 2008

Jakarta Macet?


Ya, semua orang udah pada tahu, Jakarta bakal macet kalo:
- jam kantor mulai atau abis - bahkan saat makan siang
- ujan dikittt aja
- ada iring2an VIP lewat
- Demo

Ya gimana nggak, salah satu resiko tinggal di negara yang tidak merata penyebaran kemakmurannya ya seperti ini. Semua manusia tertarik ke yang paling makmur, dalam kasus kita, Jakarta.

Jadi gimana?
Mau marah sama pemerintah? sok atuh, kalo gak cape di cuekin (e..chape deh - mendingan baca quot-quot lucunya Chincha Lawra :P)
Mau ngatur jalanan sendiri? udah gila kali ya...mau ngambil pasarnya Pak Ogah dan polisi cepe' an
Mau naik kendaraan umum dan meninggalkan mobil karena capek macet? terlalu lamaaaa...kecuali aku tinggal di sudirman, dan mau jalan sekitar jalur busway (dengan catatan - jalur busway yang gak banjir)

Aku beli motor.
Gak sembarang motor, bukan bebek-bebekan, bukan motor besar, bukan scooter...tapi vintage. Honda CB100 th 73.
Belum jadi sih sekarang, tinggal cat (yang designnya belum fix) dan ganti jok.

Lumayan, gak gitu macet lagi rasanya.
Tapi lebih dari itu, ternyata mataku dari atas 'sadel' motor vintage melihat dunia yang berbeda.
Karena mungkin tidak ada pembatas antara kaca mobil, pintu dll, aku melihat orang-orang yang gak pernah kuperhatiin sebelumnya.

Contoh, di suatu lampu merah aku sadar betapa orang buta/tuna netra hampir selalu terlihat tersenyum, dengan kaca mata dan tongkat putihnya. Ini menarik bagiku, karena mereka mau nyebrang jalan aja susah, tapi kalau kamu perhatiin, kebanyakan mereka senyum atau kalau kamu lebih suka - mereka nyengir. Di klakson- nyengir, di tolongin-nyengir, ampir kejeblos lubang - nyengir...gitu deh, coba perhatiin.

Anyway, ketika kulihat bapak buta ini kesulitan menyeberang, aku iba. Mau menolong, tapi motor mau taruh dimana? Di klaksonin orang dong kalo di lampu merah aku turun. Akhirnya, ada mas - mas yang menolong si bapak buta ini menyebrang, aku membaca bibirnya mengucapkan terima kasih, lalu nyengir lagi sambil nyebrang digandeng mas-mas berbudi baik itu.

Pak Buta, mungkin bapak bisa ajarkan pada dunia, terutama di Jakarta ini, dimana orang mengeluh terus tentang resesi, tentang utang, tentang ...macet..
mungkin bapak bisa ajarkan kami agar selalu tersenyum atau nyengir a la Stevie Wonder dalam menghadapi hidup ini.
Orang cuman sebentar kok, ya pak ya?Dunia cuma sementara kan ya pak ya...





Thursday, September 13, 2007

Dunia Paralel, tersedia versi braille untuk tuna netra


Semoga Dunia Paralel juga bisa dinikmati tuna netra.
Please check http://www.mitranetra.or.id/ebook/index.asp?mnu=3
ada keterangan bagaimana memperolehnya disana.
Tersedia 1000 buku untuk tuna netra





I'm in the Dark Here !!


Selama April sampai September ini, pekerjaan sepertinya tidak ada habisnya. Bahkan sampai sekarang belum habis. Sampai-sampai blog ini terlantar. =)
Banyak banget kekesalan, kejenuhan, kecapaian dan kemarahan kenapa pekerjaan documenter 65 episode ini tidak selesai-selesai. Sampai-sampai aku merasa bernasib sial. Dikejar klien, produser, deadline, kerusakan alat, kekurangan alat...nah kekurangan alat dan deadline ini mempunyai "side story" yang besar hikmahnya, setidaknya bagiku.

Begini ceritanya:
Ketika Producer sudah mulai khawatir kita tidak bisa menyelesaikan deadline, karena banyak hal...mulai di pikirkan untuk melengkapi RettoWasabi dengan satu mesin editing tambahan. Tentunya harus compatible dengan mesin pertama, agar jadi dua mesin paralel, bukan sendiri-sendiri. Mulailah pencarian hardware matrox Rtx100 extreme pro yang sudah discontinue.

Sebuah search engine mengantarkan kami ke seseorang bernama, sebut saja Ariel. Dia ingin menjual card matroxnya. Aku menelpon dan nego harga. Sepakat. Kuminta pada DOP ku untuk ke tempatnya mengambil card editing ini. Aku lupa, ada beberapa hal yang mesti kutanyakan, karena seri hardware dia denganku berbeda. Aku menelponnya kembali. Dalam pembicaraan ini, dia bertanya apakah kami kantor atau perorangan, mengerjakan apa, dan pertanyaan lainnya yang semacam itu. Pertama agak jengah mendengarnya. Aku merasa, kalau dia tahu aku sedang mengerjakan 65 episode untuk TV asing, mungkin dia akan menaikkan harga. Tapi ternyata tidak. Dan karena kami butuh editor tambahan, aku bertanya padanya.
"Ariel bisa ngedit?" tanyaku
"Dulu, sekarang nggak," kata Ariel, dengan nada tetap seperti biasa.
"Maksudnya? udah malas?" tanyaku lagi.
"Saya sakit mas, dulu sih ngedit terus, shooting juga," katanya lagi.
Aku terdiam, sakit apaan? sakit punggung kah? asma kah? akhirnya aku bertanya juga
"Sakit apa, riel?" tanyaku lagi, berlagak biasa.
"Saya udah gak bisa lihat mas," katanya juga seperti biasa. " Ada penyakit syaraf sepertinya, baru tahun ini, dulu sih shooting dan ngedit terus..."
Aku diam, berpikir dengan cepat, ngomong apa lagi nih...harus kedengaran biasa, tapi yang keluar adalah
"Oh, sori ya riel, gue nanya gini"
"Gak papa,"
Dari kejadian itu, tadinya aku yang merenungi nasib 'sial' dikejar deadline producer, dan lain-lain hilang begitu saja. Elo gak ada apa-apanya mik, paling masalah lo nama, uang, waktu. Dia masalahnya semua sudah gelap. Blackout. Buta total. Diem lo mik!
Akhirnya aku menelpon DOP ku yang sedang jalan mengambil barang,
"Zar, jangan di tawar lagi. Ambil aja dengan harga yang dia mau," kataku lagi. Mungkin ini tidak membantu banyak, setidaknya aku tidak akan menekan dia lagi. Dan dari DOP ku, aku tahu bahwa dia punya seorang istri dan anak yang baru lahir. Dan Ariel ini tetap menggunakan komputer tanpa monitor, dengan bantuan audible software, bahkan mungkin dia bisa membaca blog ini. Pusing mendengarnya.

Ya, Allah, hanya engkau yang tahu dan maha pemurah lagi maha penyayang.

Sekarang, setiap ada masalah pekerjaan yang menghantuiku, aku ingat Ariel, bukan pada kebutaannya, bukan pada kesialannya, tapi pada seseorang yang telah diberikan cobaan berat oleh Allah, namun tetap terdengar tenang. Seperti tidak ada apa-apa. Sementara aku yang dilimpahi pekerjaan, uang, lengkap dengan paket deadline tentunya, masih menggerutu. Malu.
Terima kasih Ariel, mengingatkan kita untuk bersyukur dengan ketabahan yang ditunjukan.
Maaf lahir batin, selamat puasa semua


Monday, April 09, 2007

Dunia Paralel: Benarkah Ia Ada?

Review Dunia Paralel By Jaf

8 04 2007

Ide tentang dunia paralel selalu menarik perhatian saya, terutama sejak saya menonton film Sliding Doors (1998) yang dibintangi si cakep Gwyneth Paltrow. Karena itulah ketika saya menemukan buku berjudul sama di Gramedia Jogjakarta dalam kesempatan tugas ke sana awal Maret lalu, saya langsung saja menyambarnya dari rak tanpa pikir panjang lagi.

Dunia Paralel sebetulnya bukan buku baru. Dia terbit tahun 2006 lalu dan ditulis oleh Micki Mahendra yang belakangan saya temukan blognya disini. Tokoh sentralnya adalah Vian, seorang sutradara wanita muda. Suatu hari hidup mempertemukannya dengan seorang novelis bernama Medi di bandara yang tengah hiruk pikuk karena berbagai penerbangan yang tertunda gara-gara cuaca buruk. Pertemuan singkat yang cukup intens dan sempat menautkan hati keduanya hingga ke suatu titik dimana mereka merasa ditakdirkan satu sama lain, meskipun pada akhirnya mereka harus kembali ke kehidupan masing-masing. Dalam novel itu mereka digambarkan kembali bertemu dan sempat ‘mencoba’ kembali menyatukan hati yang terpaut di bandara waktu itu. Namun upaya itu gagal, karena magnet dari kehidupan masing-masing rupanya lebih kuat untuk kembali memisahkan keduanya.

Adalah cara Micki menarik ulur kehidupan percintaan kedua tokoh sentral dengan alur maju mundur yang membuat cerita ini menarik. Diawali dari pertemuan keduanya di bandara lalu alurnya maju jauh ke masa depan dimana seorang nenek (hayo tebak siapa) tengah bercerita dengan cucunya, lalu kembali ke masa lalu dan seterusnya. Alur maju mundur yang sebenarnya sederhana sekali. Memang ada kesan di tengah jalan alur ceritanya sempat kedodoran namun Micki sanggup menariknya kembali ke alur cerita semula dan menutupnya dengan cara yang sangat menarik. Sebuah penutupan yang di satu sisi melegakan pembaca yang sudah keburu kepincut dengan kisah cinta Medi dan Vian, namun disisi lain juga terasa menyakitkan karena keduanya sebenarnya tidak bisa dikatakan bertemu. Apa maksudnya, wah.. kalau saya ceritakan disini ya nggak seru dong.

Sayang, buat saya ada sedikit bagian yang cukup mengganggu yakni ketika Vian diceritakan mengembangkan sebuah film yang dilatarbelakangi konsep dunia paralel. Saya sebut menganggu karena ide dunia paralel itu sebetulnya milik Medi yang pernah diceritakan pada Vian ketika mereka tengah bertemu di Bandara. Tidakkah Vian sadar itu? Tidakkah Medi keberatan idenya di ‘comot’ begitu saja bahkan kemudian Medi terlibat membantu produksi film tersebut? Tidakkah penulisnya sadar tentang hal ini? hehe..

Ketertarikan saya pada konsep dunia paralel membuat saya membeli novel ini. Micki melihat konsep ini dari sisi lain yang berbeda dari yang selama ini saya pahami, meskipun saya harus sedikit bersabar untuk menafsirkannya karena ia tidak dikembangkan lebih dalam di novelnya. Mereka yang tertarik pada ide dunia paralel mungkin baru akan menemukan jawabannya beberapa belas lembar menjelang akhir dan mungkin saja langsung bisa menebak bagaimana sang penulis mengakhiri cerita ini. :)

Great piece of work, Mick.. :) Membuat saya makin bertanya-tanya, benarkah dunia paralel itu ada? Apa sih yang tidak mungkin di dunia ini, walaupun bisa jadi ia hanya pembenaran dan tempat pelarian dari mereka-mereka yang belum puas dengan dunianya sekarang sehingga berharap jalan cerita hidupnya di dunia yang paralel akan lebih bagus hehehehehe…

Judul Buku: Dunia Paralel
ISBN: 979-794-026-8
Penulis: Micki Mahendra
Penerbit: MediaKita

ps: Buat yang tertarik, saya pernah menulis tentang Dunia Paralel di blog lama (http://www.geocities.com/ranehafied/c2w/dunia_paralel.htm)yang masih bermukim di geocities. :p





Sunday, March 25, 2007

Baraka


Kemarin, waktu sedang shooting sebuah video profile produk kecantikan, beberapa teman datang menengok. Salah satu teman baikku membawakan DVD berjudul Baraka yang udah lama di rumahnya.
Setelah present offline Sabtu kemaren, capek dengan editing dsb dsb, minggunya aku memutuskan untuk istirahat dulu. Isi jam dengan santai-santai, dan akhirnya malah kembali memutar DVD Baraka.

Masih bergidik seperti kali pertama ngelihat.
Masih kebayang agungnya dunia fana ini, benar-benar a world beyond words. Baraka di banyak bahasa berarti blessing, berkah, barokah, Baraka.
Di film itu benar-benar terlihat kalau manusia itu kecil, sementara alam itu besar dan indah.
Di keindahan alam yang besar itu, manusia kecil seperti menjadi tidak berarti, bahkan di satu scene di film tersebut, kita disamakan dengan anak-anak ayam yang tidak berarti.

Baraka, membuat aku berpikir bahwa dunia yang begitu megah ini saja ternyata hanya bergelar alam fana, alam sementara, alam yang paling bawah -- Setelah nantinya ada barzah dan Akherat, pun sudah sebagus ini. Apalagi berbicara tentang akherat dimana ada dua tempat yaitu surga dan neraka. Dimana sang kematian telah di lepaskan dari jabatannya sehingga yang ada hanyalah kekekalan. Sungguh tak terbayang, bagaimana agungnya tempat-tempat itu.
Dimanakah tempat kita nanti? Semua tergantung Allah, dan semoga kita dibimbing berbuat sesuatu yang benar di dunia fana ini, agar kita dapat merasakan Baraka yang diberikan olehnya. Alhamdullilah, aku pun di titipi Allah, Baraka - anakku, untuk kami jaga dengan cinta.
Semoga Baraka menyertai kita semua. Sehingga kita memiliki akhir yang baik.

Tiba-tiba terlintas di kepalaku, suara hati yang berkata:
"Kehidupan dunia mungkin tentang perjalanan dan proses, namun pada akhirnya, dimana kita berakhir itu yang paling penting. Semoga kita memiliki akhir yang baik."




Saturday, February 10, 2007

Tentang Hijrah


Di suatu shalat Jum'at, Khatib berbicara tentang hijrah.
Mungkin karena waktu itu deket dengan tahun baru Hijriah, tahun ketika Rasullulah Salalahu Alaihi Wassalam hijrah dari Mekah ke Madinah atas perintah Allah.
Khotbah menjadi menarik ketika sang khatib menerapkan hijrah ini tidak hanya pada peristiwa itu, tetapi lebih pada peristiwa sehari-hari yang sering luput dari perhatian kita.
Sebagian dari kita, bilang itu adalah hukum alam, tapi Quraish Shihab dalam salah satu bukunya berbicara bahwa itu adalah hukum Allah, orang saja yang sering menyelewengkannya menjadi hukum alam =) (kecuali kamu penganut sceintology, kamu kemungkinan besar setuju)
Sang khatib bilang," Sudah hukum Allah kalau kita ber hijrah di jalan-Nya, kita akan diberikan kebaikan." Tentu dia berbicara tentang the mother of all hijrah - meninggalkan segala yang buruk menjadi ke yang lebih baik. Tapi ternyata tidak hanya itu, dia memperlihatkan contoh-contoh seperti: Pohon pisang, tunasnya tidak akan tumbuh bagus, kalau tidak di pindah berjauhan dari induknya, bangsa rantau sering lebih sukses daripada pribumi (cina di dunia, padang di jawa, jawa di afrika selatan, Madura di kalimantan dll dll) - bahkan dia bilang, suka gak suka, Amerika, yang notabene (eh, apa sih arti notabene?) bangsa pendatang, diberikan kelebihan oleh Allah, karena mereka adalah orang yang berjalan - berhijrah - pergi dari satu tempat ke tempat yang lain.
Mungkin karena itu, mau gak mau kita harus keluar dari lingkungan kita, berhijrah, ketempat yang lebih baik, keluar dari rumah, keluar dari negara, keluar dari...comfort zone kita.
Asal semua di dalam nama Allah, Insha Allah tidak ada yang lain kecuali kebaikan.
Jadi ingat salah satu cerita, tentang seseorang yang ditanya malaikat Allah karena dalam hidupnya selalu berbuat kemaksiatan karena keadaan (seperti bergelimang riba, zinah, sogok, korup, dll) - orang ini beralasan, keadaan sosial sekitar yang 'memaksanya' berbuat begitu.
Ternyata tidak ada yang memaksa, kok. Karena manusia punya pilihan, karena jawaban dari malaikat Allah itu adalah: "bukankah Allah menciptakan bumi begitu luas?" - tepatnya bagaimana aku lupa, tapi maksudnya adalah: Allah SWT menciptakan bumi begitu luas, jika kita tidak bisa menjalankan perintah Allah di sini, pergilah ke tempat lain, pergi di dalam jalan-Nya, pergi dengan jaminan apabila kita mati, kita berada di jalan-Nya dan dapat ganjaran dari -Nya.
Seperti di perjalanan dunia yang paling akbar buat ummat, yaitu Haji.
Mungkin hijrah juga berarti menjadi mandiri dengan menyadari bahwa tidak ada tempat bergantung selain daripada Allah. Tidak rumah orang tua, tidak pekerjaan kantor, tidak usaha yang kita jalani. - Siapa mau menyeberangi gurun pasir mencari ridho Allah? - mungkin mereka yang akan menemukan.
Mungkin juga kita akan menyadari bahwa Allah membuat burung-burung terbang di pagi hari tanpa membawa bekal apa-apa, namun di sore hari pulang ke sarang dengan perut kenyang. - mereka tidak bawa uang, tidak bawa pekerjaan, mereka hanya berjalan, dan Allah yang memberikan.

Saturday, January 27, 2007

Beginner's luck in motion


Paul Coelho dalam bukunya the alchemist membahas sekelumit tentang ini.
Dimana dalam cerita itu, dia bilang beginner's luck adalah cara semesta alam ini bekerja sama sedemikian rupa, sehingga membuatmu berhasil mewujudkan mimpimu.
Seluruh semesta Alam bekerja sama agar kita dapat merasakan sebuah kesuksesan, sebagai 'hidangan pembuka' yang akan membuat kita lebih semangat lagi melangkah ke depan.
Suatu pemikiran yang menarik.
Sayang ia tidak menyatakan kebenaran.Hanya - setengah kebenaran.
Kalau sebenernya semesta alam dan seisinya hanya menjalankan perintah dari pemilik tunggalnya. Allah.

Tapi terlepas dari itu, aku hanya berpikir, kalau memang ada yang namanya beginner's luck. Maka, akan sangat menggoda kalo kita selalu mempelajari dan melakukan hal yang baru. Dengan begitu, kita akan terus mendulang sukses melalui beginner's luck.
Ada yang mau coba?
Tolong kasih tau kalau pemikiranku ini berhasil terbukti.
-- tulisan ini membuat ku berpikir tentang hijrah. Tapi itu ada di posting selanjutnya. Stay tuned =)

Monday, December 18, 2006

Dunia Paralel di PIM Gramedia


Sayang apabila dilewatkan,
gak nyangka di taruh di sebelahnya Leo Tolstoy's - Anna Karenina
hehehehe
lucu juga para pegawai di gramedia..

Monday, November 27, 2006

Kejebak Batak: Lele asap ala Padang Sidempuan



Sebenarnya kejadian ini bermula gara-gara aku salah masuk restoran.
Pada suatu sore, bosen memakan masakannya Restoran Sederhana, aku masuk ke sebuah restoran ber cat merah di jalan Veteran Bintaro. Tulisannya rumah makan padang sidempuan, gitu.
Turun dari mobil, langsung nyerocos,
"Mas, buatin satu dong, kapau."
Nah, kalo sering ke restoran padang, nasi kapau itu adalah nasi bungkus yang dicampur sama lauk. Mustinya ngerti dong, orang kupikir ini restoran padang.
Eh dia bilang,
"Pake nasi gak?"
Lho?
Ternyata, padang sidempuan itu sama sekali bukan padang. Malah ini adalah masakan medan sebenernya. Jadi malu. Pantesan kok logatnya beda.
Kepalang tengsin, tanya-tanya deh makanan kas Medan alias batak ini. Trus ditunjuklah teri medan, ah jamak, sering...trus ditujuklah sayur singkong cacah, ahhh..sayur, makanan kelinci...trus ditunjuklah lele asap. Nah, ini dia yang menarik. Apa itu lele asap? ya Lele di asepin, trus di kasih kuah kayak kuahnya gule ayam padang. Hmm...menarik, terlebih karena biasanya aku tidak pernah makan sesuatu yang tidak berbentuk asli. Tapi aku masih bisa mengenali buntut lele di masakan ini, jadilah kupesan satu.
Aroma makanan ini, langsung meledak ketika kita memasukan daging lele dan kuahnya ke mulut. Smokeyy...sedap banget.
Kayak apa ya, smoked salmon, bandeng asep? Tau kan rasa-rasa asap itu? Malah daging lelenya tidak terasa seperti pecel lele. Apa ya, lebih keras, kayak daging, tapi ada aroma asapnya. Hmm. Menarik.
Makanan ini merupakan salah satu favoritku sekarang, rasa asap yang membedakan, dan paduan kuah gule yang cukup light, seperti saling melengkapi di mulut. Ditambah nasi panas dan kerupuk warna. Satu lagi pengalaman kuliner yang berharga.

Tuesday, November 21, 2006

Another day Another Dream =)




Kalau kamu ngikutin blog ini dari awal, which I doubt it...
kamu akan tahu kalau impianku adalah buat film, menulis dan menerbitkan novel, dan menjadi chef.
Read: Mau Apa?
Dua yang awal sudah kejadian...meski baru film pendek, dokumenter dan sebuah novel aku sudah bersyukur...
dan kemarin tanggal 18 Nov 2006, satu terkabul..yang terakhir.
Kemarin adalah saat pertama aku dibayar untuk memasak.
Adalah Gevulde kip atau ayam kodok , yang dipesan seorang teman untuk merayakan kepindahannya ke apartemen barunya. Thanks Glenn =)
Meski belum dan jauh dari punya restaurant, sangat terasa enak ketika masakan kita di bayar dan di hargai - meski baru di skala pesanan individual oleh seorang teman baik
=)
felt good.
Semua kukatakan jauh dari kesombongan - semoga, namun penuh rasa syukur..

Monday, November 06, 2006

Control is illusion




Aku pernah baca dan mendengar bahwa kontrol adalah ilusi.
Seberapa akurat pernyataan ini?

Gini, tadi waktu olah raga pagi naik sepeda, banyak banget mobil dan motor ber seliweran di daerah bintaro. Sampe-sampe gak seger lagi, yah tapi lumayan, namanya orang cari keringat...anyway, banyaknya mobil yang buru-buru ngejar setoran hari senin itu, membuat aku berpikir naik sepeda udah gak aman. Kesenggol dikit bisa 'selesai.'

Trus pikiranku melayang ke puluhan tahun lalu, atau belasan kali yee...kayaknya udah tua banget kalo puluhan. Yaitu ke film "Days of Thunder," yang di maeinin Nicole Kidman dan Tom Cruise.
Di sini ada salah satu adegan yang menyatakan, kurang lebih, udah agak lama, sebenernya aku gak yakin ini film itu atau kehidupan nyata ku sendiri ya, agak-agak blurry sih..
nah dia bilang gini: Mankind itu selalu obsess sama kontrol. Padahal kontrol itu ilusi. Kita bisa aja melakukan persiapan yang matang untuk segala hal, tapi tetep aja hasilnya beda. Contoh, meski kita ngecek mobil kita, rem, mesin dll, tetep aja kalo emang harus tabrakan ya tabrakan..jadi kontrol itu 'Nothing." So, why bother.
(Kayaknya emang film deh, kecuali ternyata kalau aku kenal sama Nicole Kidman)

Mungkin pernyataan di atas perlu di lengkapi lagi...kontrol memang ilusi, kepada hal-hal eksternal seperti tadi...(ketabrak mobil, kesambar ikan terbang, ketabrak tawon dll) tapi untuk perasaan dan nafsu, kayaknya harus bisa deh...ok, kita akan gagal berkali-kali, tapi yang diitung mungkin bukan keberhasilan, tapi usaha..bener gak? tau deh..gue sih mikirnya kayak gitu, kalo usahanya udah bener juga Insha Allah di benerin...

So, i really do believe control about external thing is impossible, it's only an Illusion...bahkan mungkin internal control is no different...kan ada yang Maha Membalikan Hati.
Harap-harap cemas aja takdir kita baik, dan bersyukur...
ya bersyukur, jangan gak tau diri, mentang-mentang segalanya udah di atur..
=)
Peace yo!

Friday, October 06, 2006

"One for all"

Beberapa waktu yang lalu, aku mengalami makan malam yang 'tak biasa.' Makan malam ber jama'ah. Alias sepiring rame-rame.
Kalau kita lihat sepintas, kayaknya kok jorok ya. Tapi disini kita malah belajar yang namanya Adab.


Kenapa bisa begitu?
Karena, ketika kita duduk bersama-sama teman dan menikmati hidangan, timbul perasaan tidak enak kalau tangan kita kotor, tidak enak kalau tangan kita jorok, tidak enak kalau kita cara makannya berlebihan.
Sebagai bonus, lucunya, makanan tidak pernah terasa kurang apabila dimakan dengan cara seperti ini.
Pengalamanku ini gak jadi hal yang menyedihkan seperti lagu dangdut jaman dulu. Sepiring berdua =).
Bahkan sehabis pengalaman ini, aku melihat makan ber jama'ah ini adalah suatu pengalaman yang indah. Dimana adab orang dapat disempurnakan. Dimana kelakuan seseorang harus memperhitungkan kepentingan dan kesopanan terhadap orang lainnya.
Dimana seseorang harus memilih, dimana dia akan duduk. Are you amongst the one that you trust&love? or not?! (Bukan kaya atau miskin, ganteng atau jelek, tapi percaya atau tidak)

Monday, August 28, 2006

Dunia Paralel = Steak Mushroom Sauce

Oleh: Mira Tulaar, Radio Host - HardRock FM Powder Room






Baca "Dunia Paralel' kayak nonton film. Gaya berceritanya deskriptif banget, sampe warna cahaya lampu aja digambarin..

Persamaan masakan Micki sama 'Dunia Paralel' adalah : sama-sama enak dinikmatin hehehe..

Thanks for the book and the delicious steak with mushroom sauce, Mick. Tunggu review bukunya di Powder Room ya!

P.S: true love doesn't have a happy ending, because true love doesn't have an ending! :)

Thursday, August 03, 2006

Dunia Paralel: Success to brought emotion and bring readers to feel it

Oleh: Merissa Santoz, Creative, Wunderman ID


Alurnya yang gw suka.. nggak basi bacanya..
eventhough belakangannya agak cepet ketebak ending nya..tapi u success to brought the emotion..
the story itself juga very simple, banyak kita temuin di sekitar.. which is menurut gw elo hebat aja bisa ngangkat cerita yang mungkin udah biasa kita denger di telinga tapi kadang nggak kepikiran kalo sampe kita yang ngalamin kayak gitu gimana...
and u bring the readers to feel it..
tapi yang dasyat JUDULNYA dooongg!!!!!
pertama kali gw pikir nih buku SCIENCE FICTION.... and it turn out to be one hell of LOVE STORY!!!!! nice mik...
lu tipu orang orang kimia-fisika yang kacamataan, buat mau ngebaca gituan...(daripada baca rumus mulu!!!!)

Dunia Paralel: Nice one!


Oleh:
Keke Husain, Copywriter DDB Brainstorm


Setau gue, buku yang bagus adalah buku yang bisa ngegambarin sebagian besar isi buku dari judulnya. Gue rasa, Micki Mahendra udah dapet point positif di sini. Judul yang dipilih cukup ngundang keingintahuan buat ‘mengarungi’ isinya.


Slice of life banget sih ceritanya, dimana ada seorang cewe, Vian, secara engga’ sengaja ‘terdampar’ di airport dengan Medi, cowo’ yang dengan instant mencuri hatinya. Mereka berdua sama-sama tertarik sama yang namanya Dunia Paralel, dunia dimana ceritanya laen banget sama cerita di dunia ini. Yang satu tertarik buat difilemin, yang satu mau dibukuin. Sampe pada akhirnya mereka ketemu lagi di waktu yang lain dan masih dengan mimpi yang sama, hidup bersama di Dunia Paralel. Menarik.

Bercerita tentang kehidupan sehari-hari bakal kerasa basi kalo aja yang nyeritainnya ga’ punya sisi pandang yang laen. Sekali lagi, Micki Mahendra memiliki point plus. Caranya bercerita, dengan alur maju mundur, tidak membuat pembaca mati kebosenan. Cerita menuju klimaks berjalan lambat tapi pasti, sayang, akhir cerita terlalu dibuat buru-buru dan membuat pembaca semakin mudah menebak akhir cerita.

Dan satu lagi... Cerita tentang minuman ini dan itu berserakan di buku ini. Kalau jeli, ada sekitar 15 macam minuman berbeda loh di sini. Coba itung!

Intinya sih, dalam hidup itu ga’ bakal ada ‘Control Z’, there’s no turning back. Jadi, jangan pernah takut ambil resiko se-rebel apapun itu demi ngikutin kata hati.

Nice book, Mick!

K e K e W r i T e R

http://piecesofmosaic.blogspot.com